Ekonomi Indonesia Membaik, Transaksi Sistem Pembayaran Meningkat

Oleh Liputan6.com pada 17 Des 2020, 18:43 WIB
Diperbarui 17 Des 2020, 18:43 WIB
Mesin Kartu ATM
Perbesar
Ilustrasi Foto Mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa transaksi sistem pembayaran di Indonesia menunjukkan peningkatan. Kondisi ini sejalan dengan perbaikan ekonomi dan percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan.

"Transaksi Sistem Pembayaran baik tunai maupun nontunai menunjukkan peningkatan," kata Perry di Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Peningkatan ini tercermin dari Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada November 2020 mencapai Rp 804,9 triliun. Tumbuh 12,3 persen (yoy), seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi.

Transaksi pembayaran menggunakan ATM, Kartu Debit, dan Kartu Kredit juga menunjukkan perbaikan. Kontraksi pertumbuhan yang terjadi lebih renda pada November 2020 sebesar 1,93 persen (yoy) dibandingkan dengan Oktober 2020 sebesar 3,97 persen (yoy).

Sementera itu, transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap tumbuh positif. Sejalan dengan penggunaan platform dan instrumen digital di masa pandemi, kuatnya preferensi dan akseptasi masyarakat akan transaksi digital.

"Hal itu terlihat dari nilai transaksi Uang Elektronik pada November 2020 yang terus tumbuh positif, sebesar 20,27 persen (yoy)," kata dia.

Volume dan nilai transaksi digital banking yang tumbuh positif pada Oktober 2020 sebesar 29,98 persen (yoy) dan 2,11 persen (yoy). Bank Indonesia memprakirakan tren digitalisasi akan terus berlanjut didukung dengan integrasi ekosistem fintech.

Perry menambahkan kebijakan Sistem Pembayaran ini diarahkan kepada penguatan momentum pemulihan ekonomi nasional. Melakukan sinergi dengan pemerintah dan otoritas lainnya, serta perluasan akseptasi digital di seluruh wilayah Indonesia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Kompetisi Bank dan Fintech Perkuat Sistem Pembayaran

Fintech
Perbesar
Ilustrasi fintech. Dok: sbs.ox.ac.uk

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencermati perkembangan digital terus memperkuat posisi pelaku industri financial technology (fintech) untuk bersaing dengan perbankan.

Namun, bank sentral menilai, kompetisi ini bisa dimanfaatkan oleh kedua sektor untuk saling berkolaborasi memperkuat sistem pembayaran di Indonesia.

Principal Economist Payment System Policy Department BI Agung Purwoko mengatakan, kebanyakan transaksi uang elektronik saat ini disediakan oleh lembaga selain bank. Khususnya penyedia e-money yang server based.

"Jadi dalam 5 tahun pangsa non-bank meningkat, khususnya di area payment. Ini yang jadi penting untuk dicermati, industri juga sudah berubah dan muncul pelaku baru," kata Agung dalam sesi webinar, Rabu (21/10/2020).

Menurut pengamatannya, pelaku fintech kerap hadir dengan memperkuat ekosistem. Mereka terkoneksi dengan berbagai macam ekosistem industri, mulai dari e-commerce, logistik, restoran, hingga lending

"Ini kemudian memicu bank juga untuk mulai berkolaborasi. Jadi bank yang semula berbasis kantor cabang sekarang kita lihat tren kantor cabang terus menurun," ungkapnya.

Mengantisipasi hal ini, beberapa pelaku bank disebutnya tengah merombak cara bisnisnya. Beberapa telah mengadopsi program analisis statistik OpenEPI, sehingga Agung menilai kerjasama bank dengan fintech semakin terbuka.

"Jadi memang yang kita lihat sekarang adalah kompetisi antara fintech dan bank. Ke depan juga nanti bisa juga yang sekarang ada beberapa tren, bagaimana bank menggunakan ekosistem dari fintech untuk membuka rekening bank," tuturnya.

"Jadi memang kemungkinan-kemungkinan ini terus bergerak. Kolaborasi dengan mengoptimalkan yang dimiliki masing-masing pihak," ujar Agung.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓