Sukses

Neraca Perdagangan November 2020 Diprediksi Surplus USD 3,11 Miliar

Penurunan surplus perdagangan dipengaruhi oleh laju impor bulanan tercatat naik 6,89 persen.

Liputan6.com, Jakarta - Neraca perdagangan November 2020 diperkirakan surplus USD 3,11 miliar. Lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat surplus USD 3,61 miliar.

“Penurunan surplus perdagangan dipengaruhi oleh laju impor bulanan tercatat naik 6,89 persen mtm (month to month). Sementara ekspor diperkirakan tumbuh 1,89 persen mtm,” ujar Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Liputan6.com, Selasa (15/12/2020).

Secara laju tahunan, ekspor diperkirakan sebesar 4,95 persen yoy (year on year). Hal ini, kata Josua, ditopang oleh kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia. Seperti CPO tercatat naik 14,45 persen mtm, batu bara tercatat naik 9,15 persen mtm, dan karet alam tercatat naik 1,90 persen mtm.

Peningkatan harga komoditas ekspor juga didukung oleh peningkatan volume ekspor. Terindikasi oleh tren peningkatan aktivitas manufaktur dari negara mitra dagang utama Indonesia seperti AS, Tiongkok dan Jepang. Sementara itu, impor diperkirakan tercatat -24,85 persen yoy.

“Laju bulanan kinerja impor meningkat sejalan dengan peningkatan impor non-migas sejalan dengan aktivitas manufaktur domestik yang masuk dalam fase ekspansi pada bulan November,” kata Josua,

Selain itu, Josua menilai impor migas juga berpotensi meningkat sejalan dengan peningkatan harga minyak mentah sebesar 5,06 persen mtm.

Saksikan video pilihan berikut ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Perang Dagang AS-China Bawa Neraca Dagang Indonesia Surplus di Oktober 2020

Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD3,61 miliar pada Oktober 2020. Dengan demikian, ini adalah keenam kalinya ekspor-impor Indonesia surplus.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Mohammad Dian Revindo menilai, hal ini menandakan kinerja tim ekonomi Presiden Joko Widodo solid.

"Memang ekspornya solid di masa pandemi ini. Kalau diakumulasi sejak Januari sudah surplus 17,7 miliar dolar AS. Itu sebenarnya ekspor kita lebih baik. Bahkan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 hanya minus 5,6 persen. Artinya hampir sama dengan ekspor tahun lalu yang situasinya bukan pandemi, berarti ekspor solid sekali," kata Revindo di Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Membaiknya kinerja ekspor ini, kata dia, karena Indonesia diuntungkan dengan adanya perang dagang Amerika Serikat dan China. Dimana dengan adanya perang dagang itu, Indonesai menjadi negara pemasok kebutuhan AS yang tadinya dipasok dari China.

"Jadi Indonesia sudah masuk ke amerika menggantikan produk China. Makanan minuman, alat kelisistrikan, beberapa tekstil masuk ke AS meggantikan prduk China. Jadi nilai tambah ekspor kita naik," kata dia.

Menurut dia, hal ini tentu tidak terlepas dari kinerja dan koordinasi menteri-menteri ekonomi Jokowi yang membaik. Dengan koorninasi yang baik ini, tentu menghasilkan kebijakan dan keputusan yang menguntungkan Indonesia.

"Misalnya mau buat acara dengan negara mana sudah banyak ngobrol. Memang yang paling tahu dan punya peta adalah Kemendag pasti," kata dia.

Selain itu, Kementerian Perdagangan dibawah kepemimpinan Agus Suparmanto juga jeli melihat peluang dengan membuat kebijakan yang tidak menghambat.

"Menurut saya bagusnya Kemendag ini adalah tahu mengerjakan apa yang prioritas, mengerjakan produk apa untuk negara mana. itu hebatnya kemendag itu," ujar dia.

Namun demikian, kata dia, pemerintah tidak boleh puas begitu saja. Kedepan, pemerintah harus memastikan kualitas barang-barang alam negeri meningkat. Dengan kualitas yang baik tentu akan memiliki daya saiang yang tinggi.

Dalam kesempatan ini, dia juga mengapresiasi langkah pemerintah dan Kementerian Perdagangan di bawah kepemimpinan Agus Suparmanto yang melakukan perjanjian perdagangan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang lahir atas gagasan Indonesia.

Melaui RCEP ini tentunya mendorong Indonesia lebih jauh ke dalam rantai pasok global dengan memanfaatkan backward linkage. Yakni memenuhi kebutuhan bahan baku atau bahan penolong yang lebih kompetitif dari negara RCEP lainnya, dan forward linkage, yakni dengan memasok bahan baku atau bahan penolong ke negara RCEP lainnya.

"Akhirnya gol RCEP ini, ketika Biden menang Trump kalah kan ketidakpastian. Karena ada RCEP kita tidak ditekan karena kita yang inisiasi. Silahkan AS mau kemana karena kita punya rcep. kalau as menawarkan mau menarkan kerja sama yang menguntungkan ok," kata dia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.