Cukai Naik Bikin Peredaran Rokok Ilegal Kian Marak, Ini Kata Sri Mulyani

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 10 Des 2020, 13:23 WIB
Diperbarui 10 Des 2020, 13:24 WIB
Bea Cukai
Perbesar
Dalam rangka Operasi Patroli Laut Terpadu Jaring Sriwijaya Tahun 2020 telah meringkus KM Milenium yang bermuatan 10,2 juta batang rokok ilegal di perairan Peureula.

Liputan6.com, Jakarta - Peredaran rokok ilegal menjadi salah satu yang melatarbelakangi dinaikkannya cukai rokok tahun depan. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, sekaligus mengumumkan kenaikan cukai rokok 12,5 persen pada 2021.

“Semakin tinggi cukainya, insentif untuk melakukan tindakan ilegalnya makin tinggi,” kata Sri Mulyani, Kamis (10/12/2020).

Untuk menangani rokok ilegal ini, Menkeu mengaku telah melakukan langkah langkah preventif seperti sosialisasi dan mendirikan Kawasan Industri hasil tembakau

“Saya sudah menginstruksikan kepada Dirjen Bea dan Cukai untuk terus melakukan langkah-langkah menangani peredaran produksi dan peredaran rokok ilegal ini,” kata Menkeu.

Sampai dengan 30 November 2020, tercatat jumlah penindakan rokok ilegal sebanyak 8.155 kali. Meningkat 41,23 persen dibanding 2019 dengan rata-rata 25 tangkapan per hari.

“Tahun ini meskipun dalam suasana dan situasi pandemi yang mengancam semuanya termasuk jajaran Bea dan Cukai. Jajaran Bea Cukai tetap meningkatkan jumlah penindakan terhadap peredaran rokok ilegal sebanyak 8.155 kali. Ini upaya yang sangat heroik, saya berterima kasih semua jajaran melakukan ini,” kata Menkeu.

Adapun jumlah batang rokok yang dari operasi ini mencapai lebih dari 384,5 juta batang senilai Rp 339 miliar. Jumlah ini juga mengalami kenaikan dari tahun 2019 sebanyak 361,2 juta batang senila Rp 247 miliar.

“Semakin tinggi cukai kita naikkan, semakin mereka bersemangat untuk menghasilkan rokok ilegal,” kata Menkeu.

2 dari 4 halaman

Sah, Cukai Rokok Naik 12,5 Persen di 2021

20160930- Bea Cukai Rilis Temuan Rokok Ilegal-Jakarta- Faizal Fanani
Perbesar
Petugas memperlihatkan rokok ilegal yang telah terkemas di Kantor Dirjen Bea Cukai, Jakarta, Jumat (30/9). Rokok ilegal ini diproduksi oleh mesin dengan total produksi 1500 batang per menit. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 12,5 persen.

“Kita akan naikkan cukai rokok sebesar 12,5 persen,” ujar menkeu dalam Press Statement : Kebijakan Cukai Rokok, Kamis (10/12/2020).

Rinciannya, untuk industri yang mengeluarkan atau meprosukdi sigarete putih mesin (SPM) golongan I akan dinaikkan sbeesar 18,4 persen, SPM IIA 16,5 persen, dan SPM IIB naik sebesar 18,1 persen.

Kemudian, untuk sigaret kretek mesin (SKM), untuk golongan I naik sebesar 16,9 persen, SKM IIA naik 13,8 persen, dan SKM IIB naik 15,4 persen.

“Sementar itu, untuk industi sigaret kretetk tangan (SKT), tarif cukainya tidak berubah. Atau dalam hal ini tidak dinaikkan. Artinya kenaikannya 0 persen,” kata Menkeu.

Hal ini, lanjut Menkeu, mempertimbangkan bahwa industri SKT adalah yang memiliki tenaga kerja terbesar dibandingkan yang lainya.

“Dengan komposisi tersebut, maka rata-rata kenaikan tarif cukai adalah sebesar 12,5 persen. Ini dihitung rata-rata tertimbang berdasarkan jumlah prosuksi dari masing-masing jenis dan golongan,” jelas Menkeu. 

3 dari 4 halaman

Infografis Protokol Kesehatan

Infografis Jangan Lengah Protokol Kesehatan Covid-19
Perbesar
Infografis Jangan Lengah Protokol Kesehatan Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓