PSBB Dilonggarkan, PMI Manufaktur Indonesia Tembus Level Ekspansif

Oleh Liputan6.com pada 02 Des 2020, 10:30 WIB
Diperbarui 02 Des 2020, 10:30 WIB
FOTO: Indonesia Dipastikan Alami Resesi
Perbesar
Warga mengenakan masker berjalan di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Industri manufaktur di tanah air terus menunjukkan geliat yang positif jelang akhir tahun 2020. Hal ini terlihat dari hasil Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan November yang menembus level 50,6 atau naik hampir tiga poin dibanding capaian pada Oktober di angka 47,8.

"Ini merupakan kabar gembira dari sektor industri, kenaikan PMI merupakan indikasi ekonomi, khususnya sektor industri, mulai berekspansi menjelang akhir tahun dengan indeks di atas 50," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Rabu (2/12/2020).

Sigit mengatakan, melonjaknya PMI manufaktur Indonesia pada bulan ke-11 ini didorong oleh peningkatan produksi karena pesanan bertambah signfikan selama tiga bulan terakhir. Di samping itu, kinerja gemilang didukung dengan kebijakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan bulan Oktober.

"Artinya, pembukaan kembali jalur produksi dapat memacu penjualan dan volume output," imbuh dia.

Untuk itu, Kemenperin mengapresiasi sektor manufaktur dalam negeri yang menunjukkan keuletan dan mampu memanfaatkan peluang rebound dengan dukungan pemerintah.

"Kami berupaya mempertahankan posisi ekspansi, bahkan meningkatkan angkanya di tahun depan seiring dengan program vaksinasi dari pemerintah," ujarnya.

Selain itu, Kemenperin juga akan terus mendorong pelaksanaan kebijakan strategis untuk mendukung pemulihan industri nasional, sekaligus mewujudkan sektor industri yang maju dan berdaya saing. Salah satunya adalah program substitusi impor 35 persen pada tahun 2022.

"Saat ini kondisi sektor industri perlu pendalaman struktur serta perlu kemandirian bahan baku dan produksi, sehingga program ini kami prioritaskan pelaksanaannya. Substitusi impor juga diharapkan mampu memperbaiki persoalan lain seperti regulasi dan insentif yang belum mendukung sektor industri serta belum optimalnya penerapan program P3DN," ucap dia mengakhiri.

 

2 dari 3 halaman

Stimulus Harga Gas

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menyampaikan, sejak digulirkannya stimulus penurunan harga gas baru sebesar USD 6 per MMBTU oleh pemerintah, sangat mendukung upaya percepatan pemulihan industri keramik di tanah air akibat pandemi Covid-19. Selain itu, ditopang dengan pemberlakuan safeguard untuk produk impor China, India dan Vietnam.

"Upaya tersebut mendorong peningkatan daya saing industri keramik terhadap ancaman produk impor. Jadi, kebijakan pemerintah sangat dirasakan manfaatnya karena tepat sasaran dan tepat waktu," terangnya.

Menurutnya, dampak nyata terdongkraknya kinerja industri keramik di Indonesia, salah satunya terlihat dari utilisasi produksi nasional yang mulai melonjak hingga 65 persen pada November 2020. Capaian tersebut seperti tingkat utilisasi di awal tahun 2020 atau sebelum terjadi pandemi Covid-19. "Dengan kata lain, industri keramik kita telah pulih kembali," tukasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓