Bank BJB Telah Restrukturisasi Kredit Rp 2,7 Triliun

Oleh Liputan6.com pada 01 Des 2020, 14:24 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 14:24 WIB
20150908-Bank Jabar Banten
Perbesar
Bank Jabar Banten (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Bank BJB telah merestrukturisasi kredit sebesar Rp 2,7 triliun dengan number of account sebanyak 7.950 rekening. Angka tersebut berada di bawah potensi yang ada. 

Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi melaporkan ada sekitar 8.900 number of account (Noa) yang berpotensi menerima restrukturisasi kredit dengan total kredit sebesar Rp 4,4 triliun. Namun hanya sekitar 7.950-an Noa yang diberikan restrukturisasi.

"Kami lakukan restrukturisasi sebesar Rp 2,7 triliun dengan Noa sebanyak 7.950 Noa," kata Yuddy dalam Webinar Banking dan Financial Outlook 2021: How Banking Leaders Manage Strategy To Reborn From Crisis, Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Masih ada sekitar Rp 1,7 triliun lagi yang belum diberikan restrukturisasi kredit. Alasannya, dia ingin memberikan restrukturisasi tepat sasaran. Yuddi ingin penerima restrukturisasi benar-benar sektor yang terdampak akibat Covid-19.

"Kami ingin secara konservatif menjaga bahwa posisi (kreditur) terdampak harus kita kategorikan terdampak," kata dia.

Namun, dari semua potensi kreditur yang belum menerima restrukturisasi juga memang tidak mengajukan penundaan pembayaran kredit. "Tapi yang tidak terdampak sisanya memang tidak mengajukan restrukturisasi," ungkap dia.

Sehingga secara keseluruhan dari portofolio yang ada, bank BJB saat ini hanya memberikan restrukturisasi sebesar Rp 2,7 triliun dengan jumlah Noa sebanyak 7.950. Masih dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, Bank BJB juga menerima dana penempatan dari pemerintah sebesar Rp 2,5 triliun.

 

Penempatan Dana Pemerintah

20150908-Bank Jabar Banten
Perbesar
Bank Jabar Banten (Istimewa)

Yudi mengatakan penempatan dana pemerintah tersebut sudah disalurkan lewat pembiayaan kredit sebesar Rp 5 triliun. Dua kali lipat dari total dana yang ditempatkan.

"Kami dapat dana PEN sebesar Rp 2,5 triliun dan sudah Kami akselerasi menjadi Rp 5 triliun," kata Yuddy.

Modal kredit tersebut telah dihabiskan pada Oktober 2020 lalu. Penyaluran pembiayaan ini diberikan ke beberapa segmen, khususnya di bidang infrastruktur.

"Per Oktober ini seluruh dana PEN sudah kita relaksasikan menjadi beberapa pembiayaan, khususnya di bidang infrastruktur," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓