BERANI BERUBAH: Gelas Bambu Penyambung Asa Penampung Rezeki

Oleh Ratu Annisaa Suryasumirat pada 30 Nov 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 30 Nov 2020, 06:00 WIB
Samsul Rizal Pengrajin Bambu
Perbesar
Samsul Rizal membuat gelas dari bambu untuk dijual demi menyambung hidup di tengah pandemi Covid-19. Gelas bambu buatannya memiliki corak unik tersendiri. (Foto: Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta- Lima bulan lamanya Samsul Rizal tak bekerja. Sejak pandemi Covid-19 menghantam Indonesia, kebutuhan sehari-hari terasa kian mencekik. Pada Maret 2020, perusahaan TV kabel tempatnya mencari nafkah terpaksa memberhentikan dia.

Linglung, tak tahu harus berbuat apa. Samsul pun sempat dibantu oleh rekannya. Namun, bila dia ingin bertahan di tengah situasi sulit seperti ini, maka dirinya harus Berani Berubah.

Tak ingin berdiam diri lagi, dia akhirnya mencoba berkreasi menggunakan bambu. “Coba berusahalah main-main di bambu, bikin-bikin kerajinan gelas bambu. Ya Alhamdulillah, dari situ ada lah buat sehari-hari,” ungkap Samsul kepada Tim Berani Berubah.

“Yang sekarang sih tidak hanya gelas, ada kursi outdoor buat taman-taman terbuka atau kafe-kafe. Terus yang lainnya juga. Lampion bambu, atau yang lain,” tambah dia.

Samsul bisa merasa lebih lega. Dia tak lagi bergantung hanya dari uang sisa pesangon ataupun bantuan temannya. Kini, dia bisa menghasilkan uang dari kelihaian tangannya dalam berkreasi menggunakan bambu.

Soal harga, Samsul mengaku dia tak menjual terlalu mahal. Yang penting, barang cepat terjual dan keluarga bisa makan. Meski begitu, kreasi bambu buatan Samsul tetap indah dan berkualitas. Setiap produk bambu buatannya memiliki corak unik tersendiri.

“Untuk ukuran cangkir, saya menjual Rp 25 ribu. Untuk ukuran mug, saya jual Rp30 ribu. Buat cangkir itu, sehari paling cuma dapat (buat) 10. Karena handmade, peralatan belum memadai, masih manual,” tutur dia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Suka Duka Perajin Bambu

Samsul Rizal Pengarajin Bambu
Perbesar
Samsul Rizal mengaku, menjadi seorang pengrajin bambu memiliki suka dukanya sendiri. Kadang banyak dari bambu yang dia pungut tak layak untuk dijadikan kreasi. (Foto: Liputan6.com).

Walau sudah menemukan pengganti mata pencaharian, tak semuanya selalu berjalan mulus. Samsul pun turut melewati banyak peristiwa suka dan duka selama berprofesi sebagai perajin bambu.

“Kalau waktu kerja kan gaji cuma segitu aja. Tapi kalau kita berusaha sendiri, kadang ada, kadang enggak ada. Dukanya mah pas nggak adanya ini. Kadang buat modal juga kelabakan,” kata Samsul.

“Waktu awalnya dijual juga enggak ada yang merespon. Di situlah dukanya. Karena kita membuat, belum ada yang suka,” sambungnya.

Tapi, Samsul yakin bahwa kunci kesuksesan adalah kegigihan. Dia pun pantang menyerah dan terus berusaha.

“Yang penting terus berkarya aja. Berkarya, berkreasi dengan karya yang nyata. Karena ketika kita berusaha, pasti selalu ada jalannya,” dia mengakhiri.

Pastinya cerita Samsul menjadi kisah inspiratif untuk pantang menyerah di saat kondisi terpuruk. Yuk, ikuti kisah Samsul maupun yang lainnya dalam Program Berani Berubah, hasil kolaborasi antara SCTVIndosiar bersama media digital Liputan6.com dan Merdeka.com.

Program ini tayang di Stasiun Televisi SCTV setiap Senin di Program Liputan6 Pagi pukul 04.30 WIB, dan akan tayang di Liputan6.com serta Merdeka.com pada pukul 06.00 WIB di hari yang sama.

Ingin tahu cerita lengkap Samsul, simak dalam video berikut ya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Videonya di Sini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya