Geser London, Shanghai Jadi Kota Paling Terkoneksi di Dunia

Oleh Helena Yupita pada 26 Nov 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 26 Nov 2020, 16:00 WIB
Pesawat Jet Penumpang Buatan China Lakukan Terbang Perdana
Perbesar
Ilustrasi penerbangan di China. (AFP Photo/STR/Greg Baker)

Liputan6.com, Jakarta Kota Shanghai baru saja menggeser London menjadi kota paling terkoneksi di dunia. Pergeseran terjadi karena Virus Corona Covid-19 mengguncang sektor perjalanan internasional.

London mengalami penurunan 67 persen dalam konektivitas perjalanan udara atau penerbangan, menurut badan industri penerbangan IATA. Bahkan dikatakan, pandemi telah "merusak satu abad kemajuan" untuk konektivitas antar kota. 

Sementara Shanghai justru naik peringkat. Bahkan kini 4 kota paling terhubung di dunia semuanya ada di China.

"Pergeseran dramatis menunjukkan skala di mana konektivitas dunia telah berubah selama beberapa bulan terakhir," kata Juru Bicara Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) Sebastian Mikosz, melansir BBC, Kamis (27/11/2020).

Pusat transportasi besar termasuk London, New York dan Tokyo terpukul parah pandemi. Terutama pada sektor penerbangan masuk dan keluar kota.

'"Tidak ada pemenang, hanya beberapa pemain yang sedang kesulitan. Dalam waktu singkat kami telah membatalkan kemajuan seabad dalam menyatukan orang dan terhubung," tambahnya.

Di sisi lain, perjalanan udara di China justru telah pulih dan selama musim liburan Golden Week, 425 juta orang bepergian ke seluruh negeri, menurut kementerian pariwisata China.

China juga secara bertahap membuka kebijakan perjalanan dan mengeluarkan perjanjian perjalanan bebas karantina dengan sejumlah negara termasuk Jepang dan Singapura.

Empat kota teratas yang paling terhubung di dunia saat ini, adalah Shanghai, Beijing, Guangzhou, dan Chengdu.

Awal pekan ini, Presiden China Xi Jinping menyerukan "mekanisme global" yang akan menggunakan kode QR untuk membuka perjalanan internasional.

Namun negara Asia lainnya tidak bernasib baik. Ibu kota Thailand, Bangkok dan Hong Kong, keduanya mengalami penurunan konektivitas yang tajam hingga 81 persen.

Indeks konektivitas udara IATA mengukur seberapa baik kota suatu negara terhubung dengan kota-kota lain di seluruh dunia, yang sangat penting untuk perdagangan, pariwisata, investasi, dan ekonomi mereka.

Selama dua dekade terakhir, jumlah kota yang terhubung langsung dengan udara meningkat lebih dari dua kali lipat sementara biaya perjalanan turun secara signifikan.

"Sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan konektivitas penerbangan udara adalah kisah sukses global," tambah Mikosz.

2 dari 3 halaman

Pengusaha Sebut Kinerja Sektor Pariwisata Lebih Buruk dari Krisis 1998

Melihat Para Turis Berlibur di Pantai Kuta Bali
Perbesar
Dua turis wanita berpose saat difoto di pantai Kuta di pulau pariwisata Indonesia di Bali (4/1). Daerah ini merupakan tujuan wisata turis mancanegara dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal tahun 1970-an. (AFP Photo/Sony Tunbelaka)

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, sektor pariwisata dan jasa perjalanan menjadi yang terpukul paling parah dari pandemi Covid-19. Bahkan, dia menyebut kinerja kedua sektor tersebut lebih buruk dari krisis yang terjadi pada tahun 1998.

"Memang pariwisata dan jasa perjalanan menjadi sektor yang paling parah terdampak pandemi Covid-19. Kinerja sektor pariwisata dan jasa perjalanan saat ini lebih buruk dari krisis 1998," tegasnya dalam webinar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Kamis (26/11).

Shinta mengatakan, kinerja buruk sektor pariwisata tercermin dari rendahnya tingkat okupansi hotel akibat dampak pandemi Covid-19. Khususnya untuk hotel berbintang yang tingkat okupansi hanya mencapai 14 persen di Mei 2020.

"Sehingga kerugian pelaku usaha hotel mencapai Rp40 triliun. Sedangkan untuk pengusaha restoran rugi Rp45 triliun," terangnya.

Sementara untuk sektor perjalanan kinerja buruk tergambar dari turunnya jumlah pengguna pesawat penerbangan domestik hingga 98 persen. Sedangkan, untuk jumlah penumpang penerbangan internasional terpangkas hingga 99 persen.

"Maka, potensi devisa yang hilang dari Januari sampai Juni hampir USD 60 miliar. Tapi ini belum termasuk penutupan lebih dari 2000 hotel," rincinya.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan skema pembukaan akses turis asing masuk ke Indonesia. Nantinya turis yang berkunjung ke Indonesia harus bisa terlacak keberadaanya. Mulai dari jenis transportasi yang digunakan, tujuan wisata hingga tempat mereka bermalam.

"Jadi bukan hanya sektor transportasi saja. Modelnya ini seperti rumah sakit, akan digabung menjadi satu rangkaian," kata Staf Ahli Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Sahat Manoor Panggabean, dalam Webinar Nasional bertajuk Adaptasi Kebiasaan Baru Penerbangan Indonesia: Relaksasi dan Optimalisasi Bisnis di Bandara, Jakarta, Rabu (11/11).

Skema ini dibuat dalam rangka memantau keberadaan wisatawan mancanegara sekaligus kemungkinannya terpapar virus corona. Saat ini Bali akan menjadi destinasi wisata yang bakal menerapkan skema ini. Sebab, beberapa wilayah di Bali sudah terlihat siap untuk kembali menerima kunjungan dari turis asing.

Tetapi, pengusaha pariwisata di Bali memiliki semangat untuk bangkit, sehingga skema ini akan disiapkan terlebih dahulu. "Itu akan ter-present dengan baik, nanti bukan hanya Bali. Bali ini menarik karena daerahnya juga semangat, jadi kita siapkan," kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓