Di Tengah Pandemi, Bukit Asam Untung Rp 1,7 Triliun di Kuartal III-2020

Oleh Athika Rahma pada 06 Nov 2020, 10:45 WIB
Diperbarui 06 Nov 2020, 10:45 WIB
Bukit Asam
Perbesar
Bukit Asam

Liputan6.com, Jakarta PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melaporkan kinerja positif hingga kuartal III 2020 terlepas dari dampak pandemi Covid-19 serta menurunnya harga batu bara dunia.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,7 triliun hingga 30 September 2020.

"Tentu ini suatu yang harus kita syukuri, tidak banyak perusahaan baik perusahaan publik maupun non publik, baik BUMN dan non BUMN, baik perusahaan kecil maupun besar yang bisa untung di era ini, kita termasuk perusahaan yang bisa mencapai keuntungan Rp1,7 triliun di September 2020," kata Arviyan dalam konferensi pers virtual, Jumat (6/11/2020).

Adapun, dari sisi pendapatan, PTBA membukukan sebesar Rp 12,8 triliun. Aset perusahaan tercatat masih kuat berada di angka Rp 24,5 triliun, dengan komposisi kas dan setara kas termasuk deposito berjangka (lebih dari 3 bulan) sebesar Rp 6,1 triliun atau 25 persen dari total aset.

Dari sisi produksi, PTBA mampu memproduksi 19,4 juta ton batu bara hingga September 2020 atau 77 persen dari target tahun ini yang telah disesuaikan menjadi 25,1 juta ton. Kinerja angkutan batu bara juga menunjukkan performa yang terjaga dengan kapasitas angkutan batu nara tercatat mencapai 17,7 juta ton.

Menurut Arviyan, kinerja PTBA hingga kuartal III- 2020 masih terdampak oleh pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan konsumsi energi akibat diberlakukannya lockdown di beberapa negara tujuan ekspor seperti China dan India. Begitu juga dengan kondisi di dalam negeri yang menjadi pasar mayoritas Bukit Asam.

Turunnya konsumsi listrik di wilayah besar Indonesia seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa dan Bali juga berdampak turunnya penyerapan batu bara domestik.

 

2 dari 3 halaman

Harga Batu Bara Merosot

Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun
Perbesar
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Harga batu bara yang terus merosot selama tiga triwulan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perseroan.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batu bara acuan (HBA) ini merosot sekitar 24 persen dari USD 65,93 per ton pada bulan Januari 2020 menjadi USD 49,92 per ton pada bulan September 2020.

Menurut Arviyan, untuk mencapai kinerja tersebut, dilakukan efisiensi berupa penurunan biaya usaha dan biaya pokok produksi melalui penerapan optimalisasi design tambang.

"Tentunya dengan kinerja seperti itu didukung efisiensi maka kita masih bisa membukukan laba sebesar Rp 1,7 triliun," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓