Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2020 Bisa Lebih Baik, Ini Syaratnya

Oleh Tira Santia pada 06 Nov 2020, 11:00 WIB
Diperbarui 06 Nov 2020, 11:00 WIB
20161107-Ekonomi-RI-Jakarta-AY
Perbesar
Suasana gedung bertingkat nampak dari atas di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal IV akan membaik jika konsumsi rumah tangga lebih didorong lagi dengan cara penanganan covid-19 dengan baik.

“Itu sudah bisa diperkirakan pertumbuhan minus, cuman kan kita itu tidak seperti negara lain yang minusnya lebih dalam lagi. Tetapi negara lain struktur ekonominya seperti Thailand dan Singapura kan isinya ekspor. Sedangkan kita isinya konsumsi,” kata Wakil Ketua APINDO Bidang Ketenagakerjaan Bob Azam, kepada Liputan6.com, Jumat (6/11/2020).

Sehingga jika konsumsi rumah tangga Indonesia minus terus menerus maka berbahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Meskipun saat ini pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 minus 3,49 persen cukup rendah dibanding kuartal II yakni minus 5,32 persen.

Namun tetap saja dilihat dari konsumsi rumah tangga di kuartal III hanya turun sedikit saja dari sebelumnya. Dari 5,5 persen di kuartal II menjadi 4,04 persen di kuartal III 2020 ini.

“Walapun kita minus (pertumbuhan ekonomi) tidak terlalu besar tapi kita juga harus waspada. Karena kita didominasi oleh konsumsi pertumbuhan ekonominya, jadi penting sekali bagi kita untuk mendorong konsumsi. Supaya ekonomi kita bisa masuk ke zona recovery,” jelasnya.

Bob menjelaskan zona recovery itu adalah zona di mana perusahaan-perusahaan itu sudah bekerja di atas titik impas. Kalau masih bekerja di bawah titik impas artinya perusahaan masih “pendarahan” istilahnya.

Jika pendarahan terus menerus sehingga ujungnya bisa collapse, maka Pemerintah harus mendorong perusahaan secepatnya beranjak ke titik impas, dengan mendorong konsumsi.

“Jadi sebenarnya negara lain melihat kita peluangnya besar untuk bisa recovery cepet karena tinggal naikin aja konsumsi. Kalau mereka melihat konsumsinya tidak tumbuh lagi atau pas-pasan tergantung ekspor itu berat. Kan tunggu pemulihan ekonomi dunia dulu,” ujarnya.

Kata Bob, semestinya Indonesia bisa lebih baik lagi daripada negara lain, kalau Indonesia berhasil mengembalikan konsumsi rumah tangga yang merosot. Maka besar kemungkinan investor percaya kembali kepada Indonesia untuk menanamkan modal.

“Kita itu sangat tergantung untuk mendorong konsumsi bagaimana pengelolaan pandemi covid-19, karena salah satu alasan orang mengurangi konsumsi karena dia tidak confidence dengan ekonomi ke depan lantaran pandemi belum menunjukkan titik puncaknya,” pungkasnya.   

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Istana Yakin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sudah Lampaui Titik Terendah Meski Terkontraksi

FOTO: Indonesia Dipastikan Alami Resesi
Perbesar
Warga mengenakan masker berjalan di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Ekonomi Indonesia dinilai sudah melampaui titik terendah dan mulai beranjak maju, meski terkontraksi minus 3,49 pada kuartal III 2020 sehingga membawa Indonesia mengalami resesi ekonomi.

Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden Edy Priyono mengakui ekonomi Indonesia masih tumbuh negatif, namun angkanya lebih kecil dibandingkan kuartal II 2020.

"Terpenting adalah, pertumbuhan kita di kuartal III-2020 lebih baik daripada kuartal II-2020, sehingga menunjukkan bahwa secara bertahap kita bergerak menuju pemulihan ekonomi," ujar Edy dalam siaran persnya, Kamis (5/11/2020).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lainnya. Misalnya, Singapura yang ekonominya anjlok di angka minus 7 persen dan Meksiko terkoreksi minus 8,58 persen.

Di sisi lain, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ada pula negara yang pertumbuhan ekonominya di kuartal III 2020 lebih baik daripada Indonesia.

Edy mencontohkan Tiongkok yang ekonominya tumbuh positif 4,9 persen, Taiwan (3,3 persen), dan Vietnam (2,62%).

Hal sama juga dirasakan Korea dan Amerika Serikat yang ekonominya sedikit lebih baik daripada Indonesia, meskipun pertumbuhannya pada kuartal III 2020 juga masih negatif. Adapun ekonomi korea di kuartal ini minus 1,3 persen dan Amerika Serikat minus 2,9 persen.

"Kalau melihat perbandingan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik," ucap Edy.

Dia mengklaim strategi pemerintah merancang sejumlah program dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) merupakan langkah yang tepat. Pemerintah juga terus mendorong belanja anggaran untuk menggairahkan perekonomian.

"Fakta ini menjadi catatan positif karena sesuai dengan prinsip "counter cyclical", artinya ketika perekonomian lesu, belanja pemerintah menjadi andalan utk mendorong perekonomian," katanya.

Edy mengatakan hal tersebut perlu terus dilakukan selama perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih. Di samping itu, kelompok menengah-atas harus didorong untuk meningkatkan konsumsinya.

"Selama ini mereka diduga banyak menempatkan uangnya sebagai tabungan. Pemerintah perlu mendukung dengan menegakkan aturan tentang protokol kesehatan/Covid. Karena kelompok menengah-atas hanya akan mau keluar dan berbelanja (secara fisik) jika merasa aman," jelas Edy. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓