Rupiah Menguat ke 14.385 per Dolar AS Jelang Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 05 Nov 2020, 10:45 WIB
Diperbarui 05 Nov 2020, 10:45 WIB
FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis ini. Pelaku pasar menanti pengumuman pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2020.

Mengutip Bloomberg, Kamis (5/11/2020), rupiah dibuka di angka 14.385 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.565 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.375 per dolar AS hingga 14.427 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 4,05 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.557 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.609 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis ini bergerak positif jelang pengumuman Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

"Data ekonomi PDB kuartal III bisa menggerakkan rupiah hari ini selain sentimen eksternal pemilu AS," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra dikutip dari Antara.

Pertumbuhan ekonomi diprediksi analis minus 3 persen secara tahunan (yoy) tapi naik 5,34 persen secara kuartalan (qoq), artinya ada pemulihan meski masih minus secara tahunan.

"Hasil ini mungkin sudah diproyeksikan pasar yaitu ada pemulihan di kuartal III karena PSBB sudah diperlonggar dan stimulus sudah jalan. Ini positif untuk rupiah," ujar Ariston.

 

2 dari 3 halaman

Sentimen Eksternal

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Tapi di sisi lain, lanjut Ariston, pasar masih mewaspadai pemilu AS yang bisa menggerakkan dolar AS.

Kemenangan Biden sudah mulai terlihat setelah hasil perhitungan suara di Wisconsin dan Michigan lebih condong ke Biden.

Menurut Ariston, pagi ini indeks saham Asia positif kemungkinan karena menanggapi hasil ini karena Demokrat lebih disukai pasar dalam pemilu kali ini.

Tapi perhitungan masih jalan dan kemungkinan akan keluar hasil yang ketat. Banyaknya surat suara yang dikirim melalui pos juga menambah lama perhitungan.

Selain itu, hasil juga akan semakin lama karena partai pendukung Trump berencana melakukan gugatan hukum terhadap perhitungan suara bila hasilnya kemenangan tipis untuk lawan.

"Ini akan menambah ketidakpastian di pasar dan dolar AS masih bisa menguat lagi karena ketidakpastian tersebut," kata Ariston.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah bergerak melemah tipis di kisaran 14.520 per dolar AS hingga 14.600 per dolar AS.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓