Pengembangan Sagu Bagian Penting Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Oleh Gilar Ramdhani pada 23 Okt 2020, 17:16 WIB
Diperbarui 23 Okt 2020, 17:16 WIB
Pengembangan Sagu Bagian Penting Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional
Perbesar
Ilustrasi pangan lokal sagu/pertanian.go.id.

Liputan6.com, Jakarta Sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang dapat menjadi alternatif pangan nasional. Sejak zaman dahulu, sagu telah menjadi pangan utama masyarakat kawasan timur Indonesia. Bahkan, kini telah banyak bentuk produk turunan dari sagu seperti glukosa, yang dihasilkan melalui pemanfaatan pati dan dapat dijadikan etanol dan fruktosa dalam industri makanan dan minuman.

Selain itu, Sagu juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi dextrin yang umum digunakan di industri kayu, kosmetik, farmasi, dan pestisida. Melihat potensi sagu yang begitu besar membuat pemerintah memasukkan pengolahan sagu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. 

Artinya, pemerintah memandang sagu sebagai bagian yang penting dan strategis bagi ketahanan pangan nasional terutama menghadapi krisis pangan seperti yang diprediksi oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui komoditas pangan lokal, salah satunya dengan menggairahkan pengembangan budidaya ubi kayu hingga industri tapioka dan komoditas sagu.

"Untuk menjaga pasokan pangan tetap aman terutama di masa pandemi Covid 19, perlu alternatif pengembangan pangan lokal seperti sagu, ubi kayu, ubi jalar, jagung, talas, sorgum, dan lainnya. Penguatan pangan lokal sangat penting mengingat sektor pertanian khususnya subsektor tanaman pangan saat ini menjadi pengungkit utama pertumbuhan perekonomian," ujar Mentan beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan pandemi Covid-19 memberikan pembelajaran bagi semua pihak bahwa ketahanan pangan sangatlah penting. 

“Di tengah pandemi saat ini, ketahanan pangan nasional menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk terus berupaya memastikan pasokan pangan yang sehat kepada masyarakat,” jelas Agus.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hilirisasi Sagu

Oleh karena itu, Agus menghimbau, masa pandemi ini menjadi momentum yang baik untuk membangun kedaulatan pangan melalui program diversifikasi produk dan konsumsi. 

“Pengembangan sagu sebagai salah satu pangan pokok perlu diakselerasi. Sebab, selain berbasis kearifan lokal, hilirisasi sagu juga dapat menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Agus. Apalagi, Presiden RI, Joko Widodo telah memberikan arahan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dalam negeri agar rantai pasokan tidak terganggu. 

Dikutip dari Media Perkebunan, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Antarjo Dikin mengakui makanan sagu dapat menggantikan makanan pokok lainnya. Sebab, di dunia ini memang ada kecenderungan kelangkaan pangan dan sumber daya alam mulai terbatas. Bahkan sagu pun saat ini telah dijadikan makanan alternatif pengganti beras khususnya bagi penderita penyakit diabetes.

Seperti diketahui, data dari International Diabetes Federation pada 2017 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 negara dengan jumlah orang dengan diabetes. “Jadi sagu ini bisa menjadi bahan makanan pengganti beras,” kata Antarjo.

Melihat hal tersebut, Antarjo pun mengakui maka sagu bisa juga dijadikan sebagai sumber pangan lainnya. Sehingga dengan membuka atau menciptakan pasar sagu, sama saja dengan mengangkat potensi petani dan membuka pasar ekonomi baru ke luar negeri.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5 Negara Pasar Sagu Indonesia

Terbukti, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pasar sagu Indonesia terbesar ada di lima negara. Pertama Malaysia dengan volume ekspor 7.138.000 kilogram dengan nilai US$ 873.604. Kedua, Jepang dengan volume ekspor 4.122.000 kilogram dengan nilai US$ 208.748.

Ketiga, Cina dengan volume ekspor 208.305 kilogram dengan nilai US$ 110.601. Keempat, Singapura dengan volume ekspor 7.175 kilogram dengan nilai 23.096. Kelima, Amerika Serikat dengan volume ekspor 4.615 kilogram dengan nilai US$ 68.227.

Semakin meningkatnya konsumsi sagu dunia karena sagu memiliki kandungan serat yang tinggi, namun karbohidratnya rendah. Jadi sangat dianjurkan bagi penderita diabetes dan mencegah datangnya penyakit tersebut. 

“Sehingga negara yang belum banyak yang tau manfaatnya, harus terus disosialisasikan untuk mendorong pasar sagu di luar negeri,” himbau Antarjo.

 

(*)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya