PLN Nyatakan Siap Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Oleh Maulandy Rizki Bayu Kencana pada 20 Okt 2020, 13:10 WIB
Diperbarui 20 Okt 2020, 13:10 WIB
20160603- PLTN Novoronez di Rusia- Nurmayanti
Perbesar
Novovoronezh Power Unit 6 merupakan desain pembangkit nuklir pertama Rusia di Abad 21. Di mana, Reaktor VVER-1200 merupakan reaktor terkuat saat ini pada industri nuklir di Rusia. (Liputan6.com/Nurmayanti)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah bersama DPR RI kini tengah menyusun Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT). Salah satu points terkait pengembangan energi nuklir

PT PLN (Persero) mengaku siap jika diberi tugas oleh pemerintah untuk terlibat dalam pengembangan energi baru tersebut. Perseroan juga telah melakukan sejumlah kajian dalam membangun pembangkit nuklir.

"Dari sisi PLN seandainya memang ditugaskan pembangkit nuklir, kita sudah lakukan kajian terhadap penerimaan masyarakat seperti apa. Dari sisi non-teknis kebanyakan. Kalau dari sisi teknis kita enggak ada masalah," kata Direktur Puslitbang PLN Iswan Prahastono dalam sesi teleconference, Selasa (20/10/2020).

Iswan menjelaskan, saat ini sudah banyak penelitian tentang teknologi nuklir dari sisi generasi 4. PLN juga telah berkoordinasi dengan BPPT dan LIPI untuk membuat kajian terkait hal tersebut.

"Jadi sebetulnya sangat memungkinkan. Mungkin dari sisi masyarakat ada kajian penerimaan, itu pun sudah kita lakukan juga," ujar Iswan.

Saat ini, PLN masih sebatas melakukan kajian seputar teknologi nuklir. Sebab perseroan belum memiliki pembangkit nuklir sehingga belum bisa membuat terobosan.

Akses terhadap teknologi nuklir generasi 4 pun belum banyak bisa dipelajari, lantaran produsennya di dunia saat ini terhitung belum banyak.

"Itu sudah kita pelajari semua, apa kelemahan, kelebihan, terus produsennya nanti yang mana. Mungkin kalau nanti terjadi itu ngambilnya yang dari Jepang. Istilahnya bukan inovasi, kajian. Kalau inovasi jelas enggak ada karena kita enggak punya teknologi nuklir," tutur Iswan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

RI Belum Butuh PLTN hingga 2050

PLTN Tokaimura di Jepang
Perbesar
PLTN Tokaimura di Jepang (Penn State)

Penggunaan nuklir sebagai energi primer Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai belum menjadi prioritas. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan pemerintah agar proyek ini tidak menimbulkan dampak lingkungan dan risiko kecelakaan serta besarnya biaya rehabilitasi jika terjadi kecelakaan.

Pengamat dan praktisi energi, Herman Darnell mengatakan, hasil studi dan analisis yang dilakukan, Indonesia dinilai belum perlu membangun PLTN hingga 2050 untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Menurut dia, ada beberapa alasan PLTN belum perlu dibangun. Pertama, biaya investasi yang sangat mahal. Sementara saat ini, Indonesia masih bergantung pada utang untuk memenuhi pembangunan infrastruktur, termasuk di ketenagalistrikan.

“Kedua, biaya listrik yang dihasilkan PLTN lebih mahal listrik produksi PLTU atau PLTGU (gas),” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Alasan ketiga, kata Herman, masih banyak sumber energi di Indonesia yang bisa dimanfaatkan dengan maksimal seperti gas dan panas bumi. Menurutnya, saat ini pemanfaatan kedua sumber energi tersebut belum maksimal.

Yang keempat, Indonesia terletak di Ring of Fire yang rawan terjadi bencana alam, sehingga penggunaan PLTN berisiko tinggi.

“Terakhir, kalau terjadi kecelakaan akan menyebabkan kelumpuhan ekonomi dan berpotensi kebangkrutan negara,” ungkap dia. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Berisiko

PLTN
Perbesar
Ilusrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. (Foto: batan.go.id)

Sementara itu, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, menambahkan, pembangunan PLTN seperti yang rencananya dibangun di kawasan Gunung Muria cukup berisiko. Sebab, kemungkinan terjadinya letusan di Gunung Muria cukup besar.

“Berdasarkan data kita tahun 2006, dalam 200 tahun, Gunung Muria berpotensi meletus, kemungkinannya sebesar 0,4 persen,” ungkap dia.

Tidak hanya gunung api, pembangunan PLTN di Indonesia, lanjut dia, juga masih harus memikirkan kendala bencana alam lainnya seperti gempa, tsunami, banjir, dan longsor.

Apalagi, kata Surono, jumlah lempeng tektonik aktif di Indonesia cukup banyak yang menyebabkan wilayah di sekitar Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi besar potensinya terjadi gempa.

“Kalau paksakan ingin bangun PLTN, yang paling aman dari bencana geologi mungkin di Kalimantan. Di sana hanya ada banjir, tapi tetap ada potensi gempa dari daerah sekitarnya,” tandas dia. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓