Indonesia Butuh Modal USD 12 Miliar untuk Bangun Industri Baterai

Oleh Liputan6.com pada 15 Okt 2020, 19:37 WIB
Diperbarui 15 Okt 2020, 19:37 WIB
Baterai Mobil Listrik
Perbesar
Warna biru itu merupakan baterai di mobil listrik (Foto: Electrek).

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian BUMN akan membentuk perusahaan holding industri baterai bernama Indonesia Battery. Perusahaan ini membutuhkan modal sebanyak USD 12 miliar untuk mengolah nikel dari hulu ke hilir.

"Kalau dari Pak Menteri (BUMN) USD 12 miliar karena (produk) turunannya lebih jauh," kata Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak di Jakarta, Kamis (15/10).

Tiga perusahaan dalam holding ini yakni PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Pendanaan perusahaan holding ini berasal dari dua perusahaan asing yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea.

Dua perusahaan ini dikenal sebagai produsen electric vehicle (EV) battery atau baterai untuk kendaraan listrik terbesar dunia. Nilai proyek ini kata Orias akan lebih besar jika ada perusahaan lain yang bergabung sebagai pihak ketiga.

"Kalau ada mitra ketiga masuk, investasinya bisa sampai USD 20 miliar," kata dia.

Namun sejauh ini jumlah perhitungannya masih diangka USD 12 miliar untuk industri pengolahan nikel dari hulu ke hilir. "Sekarang perhitungannya 12 miliar dolar AS dari hulu ke hilir," sambungnya.

Nantinya, Antam akan mengerjakan pasokan baterai di hulu. Sementara Pertamina dan PLN akan mengerjakan di sektor hilir.

 

2 dari 3 halaman

Kerjasama dengan PLN dan Pertamina

Tiongkok Ciptakan Baterai Super untuk Mobil Listrik
Perbesar
Ilmuwan Tiongkok mengklaim berhasil mengembangkan baterai dengan kapasitas super, hanya perlu waktu pengecasan beberapa detik saja.

Bos MIND ID ini mengaku sempat menyinggung tentang kerja sama pihaknya dengan PLN dan Pertamina. Dia menginginkan permodalan holding sama rata.

"Saya sempat singgung kerja sama PLN dan Pertamina, kita akan ikut di dalam holding itu sama rata," kata dia.

Rencananya, di hulu nanti ada Antam dan mitra dari luar negeri yang mengelola nikel. Lalu di hilir akan menjadi bagian Pertamina untuk lakukan investasi dengan holding atau mitra luar. Hal yang sama juga dilakukan PLN.

"Idealnya sahamnya satu per tiga di holidng, lalu di hilir kombinasi masing-masing, jadi Antam saya minta ikut," kata Orias mengakhiri.

Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓