Rupiah Menguat, Dibayangi Sentimen Negatif UU Cipta Kerja

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 14 Okt 2020, 10:29 WIB
Diperbarui 14 Okt 2020, 10:29 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Rabu pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Rabu (14/10/2020), rupiah dibuka di angka 14.707 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.725 per dolar AS. Hingga pukul 10.30 WIB rupiah berbalik melemah hingga berada di level 14.735 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.707 per dolar AS hingga 14.737 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 6,27 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.780 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.793 per dolar AS.

Dikutip dari Antara, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu mengatakan dari dalam negeri, penolakan UU Cipta Kerja masih menjadi sentimen negatif bagi pelaku pasar uang sehingga dapat membuat penguatan rupiah menjadi terbatas.

Selain itu, lanjut dia, proyeksi pertumbuhan Indonesia yang lebih negatif dari perkiraan lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) juga bisa menahan laju rupiah.

IMF memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari minus 0,3 persen menjadi minus 1,5 persen pada tahun ini.

"Hampir seluruh negara berkembang diperkirakan mencatat kontraksi ekonomi tahun ini," katanya.

 

2 dari 3 halaman

Sentimen Eksternal

Rupiah Menguat Tipis atas Dolar
Perbesar
Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta, Jumat (20/10). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum beranjak dari level Rp 13.500-an per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, Ariston mengatakan pelaku pasar juga sedang mencermati sentimen eksternal, salah satunya publikasi badan statistik tenaga kerja AS yang akan melaporkan data perubahan harga barang yang dijual oleh produsen.

"Data ini adalah salah satu indikator inflasi di AS, bila data dilaporkan lebih rendah dari perkiraan, artinya permintaan barang-barang masih lemah maka dolar AS berpotensi melemah," katanya.

Ariston memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.650 - Rp14.850 per dolar AS pada hari ini.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓