Menteri ESDM: EBT Mampu Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional Pasca Pandemi

Oleh Athika Rahma pada 09 Okt 2020, 15:50 WIB
Diperbarui 09 Okt 2020, 15:50 WIB
Menteri ESDM Arifin Tasrif Buka Jakarta Energy Forum 2020
Perbesar
Menteri ESDM Arifin Tasrif memberikan sambutan dalam pembukaan Jakarta Energy Forum 2020 di Jakarta, Senin (2/3/2020). Jakarta Energy Forum 2020 tersebut mengangkat tema ‘The Future of Energy’. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyatakan, di tengah pandemi, pemerintah tetap berkomitmen untuk menyediakan suplai energi baru terbarukan (EBT) dengan jumlah yang cukup bagi masyarakat.

Diakui, suasana pandemi kini menjadi tantangan bagi transformasi energi nasional. Namun, EBT bisa menjadi salah satu strategi bagi Indonesia untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi.

"EBT tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berketahanan dan berkelanjutan, namun juga berdampak signifkan bagi pengurangan emisi gas rumah kaca dan mendorong peciptaaan lapangan kerja baru," ujar Arifin dalam acara Launching Virtual The 9th Indo EBTKE ConEx 2020, Jumat (9/10/2020).

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi EBT dengan kekuatan yang cukup besar yaitu lebih dari 400 Giga Watt. Kendati, potensi itu baru dioptimalkan 2,5 persennya saja.

Sementara, pihaknya juga terus mengejar target bauran EBT mencapai 23 persen di 2025 mendatang dan meningkat menjadi 30 persen pada 2050.

 

2 dari 3 halaman

Langkah Pemerintah

20160302-Panel Surya ESDM-Jakarta- Gempur M Surya
Perbesar
Petugas memeriksa panel surya di gedung ESDM, Jakarta, Rabu (2/3/2016). Kementerian ESDN akan memasang panel surya di atap Istana Negara, kantor-kantor pemerintahan, bandara, hingga Lembaga Pemasyarakatan (LP) (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah agar pemanfaatan EBT ini bisa lebih optimal dan terbaur dengan cepat, seperti menyiapkan rancangan pembelian listrik EBT, menciptakan pasar baru EBT hingga memaksimalkan implementasi bio energi melalui percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 12 kota.

"Kemudian pemanfaatan bio massa dan sampah untuk co-firing PLTU eksisting, pelaksanaan program B30 dan pengembangan green refinery," lanjutnya.

Tak lupa, pemerintah juga mendorong pengembangan panas bumi berbasis kewilayahan melalui Flores Geothermal Island untuk pemenuhan beban dasar listrik di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur serta pengenalan program drilling untuk mengurangi resiko eksplorasi oleh pengembang.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓