Cadangan Devisa Indonesia di September 2020 Turun jadi USD 135,2 milia

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 07 Okt 2020, 13:34 WIB
Diperbarui 07 Okt 2020, 13:43 WIB
Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Perbesar
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2020 sebesar USD 135,2 miliar. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2020 sebesar USD 137 miliar.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,5 bulan impor atau 9,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," tulis Kepala Departemen Komunikasi Onny Widjanarko dalam keterangannya, Rabu (7/10/2020).

Penurunan cadangan devisa pada September 2020 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi," pungkas Onny.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Rupiah Berpotensi Melemah Dipicu Tertundanya Negosiasi Paket Stimulus

FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Penguatan Rupiah dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Rabu pekan ini. Namun demikian, rupiah masih berpotensi melemah sepanjang hari ini.

Mengutip Bloomberg, Rabu (7/10/2020), rupiah dibuka di angka 14.710 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.735 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah berada di level 14.750 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.710 per dolar AS hingga 14.752 per dolar AS. jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 6,38 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.784 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.712 per dolar AS.

Potensi pelemahan dipicu tertundanya negosiasi paket stimulus lanjutan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Kabar penundaan negosiasi paket stimulus dua AS hingga sesudah pemilu oleh Trump, telah mendorong penguatan dolar AS di pasar keuangan dan memberikan sentimen negatif ke aset berisiko," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra dikutip dari Antara, Rabu (7/10/2020)

Menurut Ariston, ditundanya negosiasi paket stimulus Negeri Paman Sam tersebut membuat pasar khawatir pemulihan ekonomi akan terganggu.

Isu tersebut, lanjutnya, juga berpeluang menekan pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

"Penguatan rupiah pasca-disahkannya RUU cipta kerja bisa tertahan," ujar Ariston.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah bergerak di kisaran Rp14.650 per dolar AS hingga Rp14.800 per dolar AS.

Pada Selasa (6/10) lalu, rupiah ditutup menguat 65 poin atau 0,44 persen menjadi Rp14.735 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.800 per dolar AS.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓