Harga Minyak Melonjak Hampir 6 Persen karena Mogok Kerja di Norwegia

Oleh Tira Santia pada 06 Okt 2020, 08:20 WIB
Diperbarui 06 Okt 2020, 08:20 WIB
Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Pada perdagangan Jumat lalu, harga merosot lebih dari 4 persen setelah diagnosis Trump. (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak melonjak lebih dari 5 persen pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Kenaikan harga miyak ini setelah dokter menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump dapat segera keluar dari rumah sakit.

Sementara, enam ladang minyak dan gas lepas pantai Norwegia ditutup karena banyak pegawai yang menjalankan aksi mogok kerja.

Mengutip CNBC, Selasa (6/10/2020), harga minyak mentah mentah Brent naik USD 2,30, atau 5,9 persen menjadi USD 41,57 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate naik USD 2,17 atau 5,9 persen menjadi USD 39,22 per barel.

"Banyak orang mengira aksi jual minggu lalu berlebihan," kata analis senior Price Futures Group, Chicago, Phil Flynn.

Pada perdagangan Jumat lalu, harga merosot lebih dari 4 persen setelah diagnosis Trump. Kondisi medis Trump tetap tidak jelas ketika dia memulai hari keempat di rumah sakit militer tempat dia dirawat. Namun dokternya mengatakan dia dapat dipulangkan secepatnya pada hari Senin, yang meningkatkan sentimen pasar.

Harapan akan paket stimulus AS untuk melawan dampak ekonomi dari pandemi juga mendukung harga minyak.

Kepala Staf Gedung Putih Mark Meadows mengatakan masih ada potensi untuk mencapai kesepakatan dengan anggota parlemen AS tentang bantuan ekonomi yang lebih banyak selama pandemi virus corona.

 

2 dari 3 halaman

Norwegia

Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Pada perdagangan Jumat lalu, harga merosot lebih dari 4 persen setelah diagnosis Trump. (iStockPhoto)

kenaikan harga minyak juga didukung oleh pemogokan pekerja yang meningkat di Norwegia. Pemogokan tersebut dilakukan karena para pekerja meminta kenaikan gaji.

Enam ladang minyak dan gas lepas pantai Norwegia ditutup.

Asosiasi Minyak dan Gas Norwegia mengungkapkan, pemogokan tersebut akan memotong total kapasitas produksi Norwegia lebih dari 330 ribu barel setara minyak per hari, atau sekitar 8 persen dari total produksi.

"Ini tidak akan memerlukan pengetatan pasokan yang serius di pasar karena kekhawatiran tentang permintaan dan kekhawatiran kelebihan pasokan baru mendominasi saat ini," kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Menurut beberapa analis, penurunan produksi Norwegia ini diimbangi dengan peningkatan produksi di Libya.

Produksi minyak Libya telah meningkat menjadi 290 ribu barel per hari. Hampir tiga kali lebih banyak dari produksinya selama blokade yang dimulai pada Januari dan berakhir pada September.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓