Karyanya jadi Langganan Jokowi, Pendiri Never Too Lavish Curhat Pernah Diremehkan

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 03 Okt 2020, 19:30 WIB
Diperbarui 03 Okt 2020, 19:30 WIB
Never Too Lavish
Perbesar
Never Too Lavish

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat sudah tak asing lagi dengan penampilan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kerap mengenakan produk anak bangsa. Salah satunya jaket bergambar Kepulauan Indonesia yang sempat viral beberapa tahun silam.

Jaket tersebut merupakan garapan Never Too Lavish (NTL), sebuah studio seni yang menggeluti jasa modifikasi desain. Mulai dari jaket, sepatu, bakan kendaraan.

Sukses menjadi langganan Jokowi, Founder sekaligus Lead Artist Nevertoolavish, Bernhard Suryaningrat atau akrab disapa Abeng membeberkan perjalanan panjang yang ditempuhnya hingga sampai pada titik sekarang. Dimana ia sempat menerima nyinyiran atas hobi yang membawanya sukses hari ini.

“Dulu banyak orang yang memandang sebelah mata, bilang grafiti apa sih. Lu ngapain nyari duit dari sini, ini nggak akan ada duitnya, gitu. Jadi sekarang ya paling nggak gue bisa membuktikan ke temen-temen gue yang dulunya berpikiran seperti itu. Sekarang justru banyak mereka akhirnya mau kerja sama gue, dan gue tetep menerima mereka,” kata Abeng dalam acara Mandiri Karnaval 2020.

Ia menuturkan, pembuktian itu juga menjadi salah satu pencapaiannya selain menjadi langganan Jokowi. Dalam acara Talkshow "from Indonesia To The World" Mandiri Karnaval 2020, Abeng mengaku Jokowi telah memesan sekitar 10 karya dari NTL.

“Kalau nggak salah ada udah 10 karya yang udah dipesan sama Pak Jokowi, jadi akhirnya sampai merasa diri di langganan, nggak berasa,” kata dia.

“Terus sama teman-teman main yang dulu juga ya kita nggak jelas segala macam, sekarang kita bisa join bareng, kerja bareng, bisa berpikir kreatif barang untuk membangun ini bersama. Itu juga pencapaian,” sambung dia.

Sedikit nostalgia di acara Mandiri Karnaval 2020, Abeng mengingat saat dulu harga sepatu custom yang ia hasilkan dibanderol seharga Rp 300 ribuan. Dimana peminatan belum banyak karena dianggap masih mahal. Namun seiring berjalannya waktu, Abeng kini berhasil menawarkan karya dari studionya yang dibanderol hingga belasan juta.

2 dari 2 halaman

Di Mandiri Karnaval 2020, Pengusaha Milenial Berbagi Cerita Tetap Produktif di Masa Pandemi

Bangga Buatan Indonesia, Mandiri Karnaval 2020 Hadirkan Kisah Brand Lokal Go Internasional
Perbesar
Mandiri Karnaval Virtual 2020.

Pandemi Covid-19 membawa dampak besar bukan hanya dari sisi kesehatan. Melainkan juga dari sisi ekonomi dan sosial. Dimana dalam keseharian masyarakat saat ini, terjadi tren penggunaan fasilitas berbasis digital sebagai opsi atas diberlakukannya pembatasan sosial.

Pemerintah juga terus menggalakkan digitalisasi terhadap pelaku usaha konvensional. Hal ini dimaksudkan agar kelangsungan usaha kedepannya bisa memenuhi tren pasar yang mengarah pada digital.

Menyambut hari jadi ke-22, Bank Mandiri menggelar acara Mandiri Karnaval 2020 yang digelar hari ini secara daring melalui Vidio. Dalam rangkaian acaranya, Mandiri menghadirkan Founder Brodo Footwear, Muhammad Yukka Harlanda.

Menghadapi situasi saat ini, Yuka mengaku ada sejumlah kegiatan yang terpaksa ditunda karena pandemi masih berlangsung. Namun disisi lain, ia mengakui adanya efisiensi dari pemanfaatan komunikasi berbasis daring. Misalnya, ia menyebutkan proses persetujuan produksi dari vendor menjadi lebih pendek dari biasanya.

“Kita sadar interaksi secara fisik itu ternyata sekarang nggak bisa. Karena kita produksi sepatu secara langsung, kita koordinasi sama vendor. Kita itu dulu, kalau mau approve sample itu panjang banget. Sekarang lewat foto dan video aja udah cukup,” kata Yukka dalam rangkaian acara Mandiri Karnaval 2020, Sabtu (3/10/2020).

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Founder sekaligus Lead Artist Nevertoolavish, Bernhard Suryaningrat atau akrab disapa Abeng. Tak jauh berbeda, Abeng juga mengalami hal serupa. Dimana biasanya konsumen datang ke studio untuk memeriksa bahan, kini bisa dijelaskan melalui daring dengan detail yang justru dirasa lebih rinci.

“Karena kan (biasanya) customer ada yang dateng lihat bahan juga, kalau mau bongkar-bongkar sepatu. Sekarang jadi pakai WhatsApp aja sih ngobrol, kita kirim (detailnya). Jadi lebih detail ini,” kata dia.

Kendati kegiatan usaha disebut tengah terpuruk, kedua pengusaha milenial memilih untuk melakukan penyesuaian strategi. Keduanya mengaku beruntung karena usaha yang mereka geluti saat ini bermula dari pemasaran digital. Sehingga dengan keadaan saat ini, mereka cukup bisa menyesuaikan.

“Harus bersyukur, karena emang kita starting-nya digital. Jadi pada saat seperti ini pun kita masih bisa mencari cari peluang itu,” kata Yuka. 

Lanjutkan Membaca ↓