Kisah Abeng, Pendiri NeverTooLavish yang Punya Langganan Presiden Jokowi

Oleh Liputan6.com pada 03 Okt 2020, 18:50 WIB
Diperbarui 03 Okt 2020, 18:51 WIB
Presiden Joko Widodo atau Jokowi
Perbesar
Saat Mampir ke Lantai 8 Senayan City, Jakarta Pusat pada Sabtu, 3 Maret 2018, Presiden Jokowi Singgah ke Salah Satu Stan Bernama Never Too Lavish. (Liputan6.com/Aditya Eka Prawira)

Liputan6.com, Jakarta - Founder NeverTooLavish, Bernhard Suryaningrat atau akrab disapa Abeng tak pernah bermimpi, orang nomor satu di Indonesia jadi salah satu pelanggan sepatu lukis buatannya. Tidak kurang 10 pasang sepatu lukis bermerk NTL (Never Too Lavish) telah dibeli Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Akhirnya Presiden Jokowi jadi langganan Gue. Sampai sekarang ada 10 karya yang dibeli," ungkap Berhard dalam talkshow 22 Mandiri Karnaval Virtual di Vidio, Jakarta, Sabtu (3/10).

Dulu kata Abeng, menjual sepatu kostume seharga Rp 300 ribu sangat sulit. Tidak sedikit orang menilai harga sepatu tersebut terlalu mahal. Padahal yang dijual Abeng saat itu bukan hanya sepatu, tetapi juga karya seni lukis yang bermedia sepatu.

Abeng sapaannya mengaku memulai bisnisnya sejak tahun 2005. Awalnya dia melukis sendiri sepatu yang dijual sendiri dari kamarnya. Seiring bertambahnya pesanan, dia mulai menyulap garasi mobil di rumahnya sebagai studio lukis sepatu.

"Dulu cuma 2 orang, sekarang sudah 45 orang," kata dia.

Perlahan, sepatu lukisnya pun main dikenal banyak orang. Dia pun mengajak teman-temannya untuk ikut menekuni bisnis bersama. Kini, dia membuka toko di beberapa tempat untuk menjual karyanya tersebut.

"Sekarang teman main juga bisa kerja bareng, itu pencapaian karena dulu gue dipandang sebelah mata," ungkap Abeng.

Bekerja dengan teman dan seniman bukan hal yang mudah juga bagi Abeng. Karakteristik seniman yang cenderung bebas dan tidak terbiasa dengan aturan menjadi tantangan lainnya. Semula dia mempersilahkan para seniman bekerja sesuai dengan kemauannya sendiri.

Namun nyatanya cara kerja ini kurang efisien yang akhirnya membuat bisnis sempat terganggu. Dengan pendekatan khusus dia akhirnya menemukan strategi mentarget tiap seniman yang bekerja untuknya dalam menghasilkan karya.

"Mau ngapain aja bebas tapi dikasih target saja dan ternyata dengan cara itu mereka happy. Sekarang pas pandemi gini mereka jadi banyak bekerja," cerita Abeng di acara Mandiri Karnaval 2020.

Perjalanan 15 tahun membuka usaha ini banyak memberikan pelajaran berharga bagi Abeng. Menurutnya, kunci keberhasilan dari usahanya ini bukan sekedar menjual sepatu lukis. Tetapi juga pada pelayanan yang maksimal kepada para pelanggannya. Sehingga merasa nyaman dan membeli lagi produknya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Di Mandiri Karnaval 2020, Pengusaha Milenial Berbagi Cerita Tetap Produktif di Masa Pandemi

Bangga Buatan Indonesia, Mandiri Karnaval 2020 Hadirkan Kisah Brand Lokal Go Internasional
Perbesar
Mandiri Karnaval Virtual 2020.

Pandemi Covid-19 membawa dampak besar bukan hanya dari sisi kesehatan. Melainkan juga dari sisi ekonomi dan sosial. Dimana dalam keseharian masyarakat saat ini, terjadi tren penggunaan fasilitas berbasis digital sebagai opsi atas diberlakukannya pembatasan sosial.

Pemerintah juga terus menggalakkan digitalisasi terhadap pelaku usaha konvensional. Hal ini dimaksudkan agar kelangsungan usaha kedepannya bisa memenuhi tren pasar yang mengarah pada digital.

Menyambut hari jadi ke-22, Bank Mandiri menggelar acara Mandiri Karnaval 2020 yang digelar hari ini secara daring melalui Vidio. Dalam rangkaian acaranya, Mandiri menghadirkan Founder Brodo Footwear, Muhammad Yukka Harlanda.

Menghadapi situasi saat ini, Yuka mengaku ada sejumlah kegiatan yang terpaksa ditunda karena pandemi masih berlangsung. Namun disisi lain, ia mengakui adanya efisiensi dari pemanfaatan komunikasi berbasis daring. Misalnya, ia menyebutkan proses persetujuan produksi dari vendor menjadi lebih pendek dari biasanya.

“Kita sadar interaksi secara fisik itu ternyata sekarang nggak bisa. Karena kita produksi sepatu secara langsung, kita koordinasi sama vendor. Kita itu dulu, kalau mau approve sample itu panjang banget. Sekarang lewat foto dan video aja udah cukup,” kata Yukka dalam rangkaian acara Mandiri Karnaval 2020, Sabtu (3/10/2020).

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Founder sekaligus Lead Artist Nevertoolavish, Bernhard Suryaningrat atau akrab disapa Abeng. Tak jauh berbeda, Abeng juga mengalami hal serupa. Dimana biasanya konsumen datang ke studio untuk memeriksa bahan, kini bisa dijelaskan melalui daring dengan detail yang justru dirasa lebih rinci.

“Karena kan (biasanya) customer ada yang dateng lihat bahan juga, kalau mau bongkar-bongkar sepatu. Sekarang jadi pakai WhatsApp aja sih ngobrol, kita kirim (detailnya). Jadi lebih detail ini,” kata dia.

Kendati kegiatan usaha disebut tengah terpuruk, kedua pengusaha milenial memilih untuk melakukan penyesuaian strategi. Keduanya mengaku beruntung karena usaha yang mereka geluti saat ini bermula dari pemasaran digital. Sehingga dengan keadaan saat ini, mereka cukup bisa menyesuaikan.

“Harus bersyukur, karena emang kita starting-nya digital. Jadi pada saat seperti ini pun kita masih bisa mencari cari peluang itu,” kata Yuka. 

Lanjutkan Membaca ↓