Pandemi Covid-19 Dorong Perubahan Kultur Masyarakat dalam Bertransportasi

Oleh Liputan6.com pada 30 Sep 2020, 17:21 WIB
Diperbarui 30 Sep 2020, 21:08 WIB
FOTO: Penerapan Pembatasan Penumpang Dalam Gerbong KRL
Perbesar
Petugas memakai pelindung wajah dan masker dalam gerbong KRL tujuan Jakarta di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Kamis (11/6/2020). PT KCI membatasi jumlah penumpang 35- 40 persen dari kapasitas untuk jaga jarak aman antarpengguna KRL atau sekitar 74 penumpang per gerbong. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti sepakat bahwa pandemi Covid-19 dapat menjadi faktor pendorong perubahan kultur bertransportasi publik. 

Masyarakat dinilai menjadi lebih teratur dalam hal antrean, disiplin penggunaan masker, tidak mengobrol saat berada di bus dan kereta KRL atau MRT, serta jaga jarak saat berada di bus atau kereta api.

Menurut Polana situasi perubahan tersebut terjadi karena adanya partisipasi semua pihak tidak terkecuali kesadaran dari para pengguna transportasi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu dalam melaksanakan protokol kesehatan.

“Tentunya Pemerintah berterima kasih atas partisipasi dan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan pengguna transportasi," kata dia di Jakarta, dikutip Rabu (30/9/2020).

Menurut Polana kerja keras yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menyusun regulasi dan menerapkan protokol kesehatan di sektor transportasi bersama operator dan stakeholder lainnya pada akhirnya membuahkan hasil meski proses yang dilalui tidak mudah.

Lebih lanjut Polana menjelaskan bahwa pemerintah akan terus menyikapi kondisi ini dengan berbagai langkah yang diharapkan mendorong perubahan-perubahan positif yang lain. Misalnya tentang implementasi kebijakan transportasi ramah lingkungan dengan mendorong peningkatan penggunaan Non Motorized Transportation (NMT).

“Non Motorized Transportation dimanapun di dunia ini sebenarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari urban transport, hanya saja di Indonesia khususnya di Jabodetabek belum terlalu memasyarakat," kata Polana.

Kondisi saat ini menurut Polana lebih memberikan peluang untuk mendorong jalan kaki dan bersepeda menjadi pilihan masyarakat bertransportasi untuk jarak -jarak yang terjangkau dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

”Pemanfaatan Non Motorized Transportation juga dapat dilakukan pada tahapan first mile maupun last mile saat menggunakan angkutan umum massal,” tutur Polana.

Bahkan bagi para pengguna sepeda, saat ini BPTJ tengah menyiapkan fasilitas bagasi gratis bagi pengguna Jabodetabek Residence Connexion (JR Connexion) yang membawa sepeda lipat.

“Dengan rencana tersebut, pengguna bus yang tinggal di kawasan Jabodetabek dapat membawa sepeda untuk digunakan pada tahapan first mile dan last mile setelah menggunakan angkutan umum massal,” jelas Polana.

2 dari 3 halaman

Layanan E-Ticketing di Terminal Tipe A Jatijajar dan Aplikasi Lacak Trans

Halte Bus Transjakarta Bundaran HI
Perbesar
Penumpang melakukan tapping e-ticketing di gate in Halte Bus Transjakarta Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (25/3). Halte Bundaran HI menjadi halte Transjakarta pertama yang terintegrasi fisik secara langsung dengan stasiun Moda Raya Terpadu (MRT). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Selain itu, pandemi Covid-19 juga menjadi momentum BPTJ untuk melakukan berbagai pembenahan terkait layanan dengan memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih sehat dan efisien.

“Contohnya melalui peluncuran layanan e- ticketing di Terminal Tipe A Jatijajar Depok dan aplikasi Lacak Trans oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia,” ujar Polana.

Menurut Polana, saat ini jumlah penumpang angkutan umum mengalami penurunan dibandingkan pada kondisi normal. Momen ini menjadi kesempatan untuk melakukan pembenahan melalui penerapan layanan e-ticketing.

“Harapannya setelah pandemi usai, e-ticketing akan menjadi kelengkapan layanan terminal. Sementara di tengah pandemi ini, layanan e-ticketing ini diharapkan dapat membantu mengurangi potensi kontak fisik secara langsung,” ujar Polana.

E-ticketing merupakan sistem elektronik berupa layanan digital yang sudah tersedia di Terminal Tipe A Jatijajar, Kota Depok. Layanan e-ticketing Terminal Jatijajar memiliki tiga fitur utama, yaitu Check in AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) berfungsi mencetak tiket /boarding pass bus AKAP, Check in AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) berfungsi mencetak tiket /boarding pass bus AKDP, dan GO SHOW yang berfungsi sebagai fitur pembelian tiket pada vending machine.

Sementara Lacak Trans merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk masyarakat Jabodetabek guna memantau risiko penularan Covid-19 baik di daerah mereka berada, di daerah yang akan mereka tuju, di kendaraan yang akan mereka tumpangi, maupun di sepanjang rute jalan yang akan mereka lalui.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓