Rupiah Ditutup Menguat Tipis Menanti Debat Capres AS

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 29 Sep 2020, 16:26 WIB
Diperbarui 29 Sep 2020, 16:26 WIB
Rupiah Menguat di Level Rp14.264 per Dolar AS
Perbesar
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 5 poin di level 14.895 per dollar AS dari penutupan sebelumnya di level 14.900 per dollar AS, pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, dari sisi eksternal, rupiah dipengaruhi oleh pengumuman anggota parlemen Demokrat terkait tagihan bantuan virus corona senilai USD 2,2 triliun, yang digambarkan sebagai langkah kompromi.

“Memang benar label harga ini membawa total biaya lebih dekat ke tingkat yang dikatakan Partai Republik akan mereka siap terima, tetapi kesenjangan masih lebar dan kepercayaan antara kedua belah pihak tampaknya tidak mencukupi,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (29/9/2020).

Sehingga, semua mata akan beralih pada Selasa malam ke debat pemilihan presiden AS pertama antara Demokrat Joe Biden dan dari Partai Republik Donald Trump, dengan pemungutan suara hanya sebulan lagi.

Selain itu, AS juga akan merilis data ekonomi sepanjang minggu, dimulai dengan indeks kepercayaan konsumen Conference Board (CB) September nanti, Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Institute of Supply Management (ISM), dan data pekerjaan.

Lalu, adanya optimisme dimana Uni Eropa (UE) dan Inggris memulai putaran pembicaraan selama seminggu. Meskipun kedua belah pihak memperingatkan kesepakatan pasca-Brexit dapat membutuhkan waktu untuk dicapai, kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen berharap kesepakatan masih dapat dicapai.

Sementara faktor internal pergerakan rupiah, kata Ibrahim, memasuki akhir Kuartal Ketiga mall, restoran dan cafe sepi pengunjung dan sepi pembeli serta Jalan-jalan protokol di Jakarta cukup lenggang.  Namun saat ini, situasinya berbeda karena Indonesia sedang dilanda pandemi virus-19 dan DKI Jakarta diterapkan PSBB Tahap ke-2 dan sudah pasti masuk jurang resesi.

“Dengan situasi tersebut akan berdampak terhadap konsumsi masyarakat, yang diprediksi akan kembali melandai bahkan bisa saja stagnan apalagi Bantuan Pemerintah berupa BLT, Bansos dan lain-lain hanya tinggal 3 bulan lagi sehingga ini PR yang harus dipecahkan oleh pemerintah,” ujarnya.

 

2 dari 3 halaman

Faktor Lain

FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Penguatan Rupiah dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Faktor lainnya, konsumsi masyarakat yang melandai atau stagnan menandakan bahwa masyarakat tidak memiliki pemasukan akibat usaha yang gagal dan terkena PHK, sehingga pengangguran atau kemiskinan terus bertambah mengakibatkan masyarakat kehabisan makanan.

Demikian ia memprediksikan perdagangan besok Rabu (30/9/2020) rupiah kemungkinan akan fluktuatif,   namun kemungkinan ditutup menguat terbatas sebesar 10-30 point  di level 14.870-14.950 per dollar AS.

“Dan IHSG drop 0,56 persen ke level 4.879,09, nilai transaksi tercatat mencapai Rp 6,91 triliun. Investor asing net sell Rp 341,93 miliar,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓