Bareskrim Catat Ada 1.617 Kasus Penipuan Online pada 2019, Paling Banyak di Instagram

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 29 Sep 2020, 14:05 WIB
Diperbarui 29 Sep 2020, 14:05 WIB
Ilustrasi Instagram
Perbesar
Ilustrasi Instagram. (Gambar oleh USA-Reiseblogger dari Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Seiring dengan tren belanja daring atau online turut mengundang pelaku kejahatan memanfaatkan media tersebut untuk melakukan penipuan.

Sepanjang 2019, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim mencatat 1.617 kasus penipuan online. Rinciannya, sebanyak 534 kasus terjadi di Instagram, 413 di Whatsapp, dan sisanya 304 kasus terjadi di Facebook.

Untuk itu, VP Marketing Lazada Indonesia, Sawitri Hertoto menghimbau agar konsumen berhati-hati jika ingin melakukan transaksi. Ia menyarankan agar transaksi sebaiknya dilakukan melalui platform resmi untuk memitigasi risiko scam atau penipuan.

Kemudian, Sawitri menyebutkan cara yang kerap digunakan penipu untuk melancarkan aksinya. Yakni melalui penawaran menggiurkan atas nama platform terpercaya. Umumnya, penawaran ini dikirim melalui pesan singkat (Short Message Service/SMS) disertai tautan.

Sawitri mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan membuka tautan tersebut.

“Itu jangan di-klik. Nanti kalau diklik, terus dia minta nama, minta alamat email, minta password. Itu nanti mereka bisa pakai untuk berbagai macam hal. Data pribadi simpan, jangan dibagikan,” kata Sawitri.

Selain itu, Sawitri juga menghimbau penggunaan kata sandi agar dipilih yang unik. Bahkan, lebih baik gunakan kata sandi yang berbeda untuk tiap platform, dan menggantinya secara berkala.

“Jangan pernah berikan data akun dan kata sandi, termasuk OTP ke siapapun secara online atau telepon,” papar Sawitri.

2 dari 4 halaman

Kaesang Pangarep Jadi Korban Penipuan Jual Beli Online, Pelakunya 4 Bocah SMP

Kaesang Pangarep
Perbesar
Jaket Kaesang Pangarep saat mengawal Presiden Jokowi jalan-jalan ke mal di Bogor curi perhatian (Dok.Instagram/@mr.s.custom/https://www.instagram.com/p/B6mL7FcgWh3/Komarudin)

Sebelumnya, Polisi menangkap empat bocah pelaku penipuan online berkedok jual beli barang langka atau limited edition di Instagram atau IG. Salah satu korbannya adalah anak Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Kaesang Pangarep.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyampaikan, kasus penipuan tersebut terungkap dari laporan salah satu korban pada 8 September 2020.

"Pelapor atas nama Nur Hermansyah," tutur Awi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2020).

Dari laporan tersebut, penyidik langsung menelusuri akun Instagram Lucky Cat Auction yang digunakan para pelaku untuk menawarkan barang limited edition, di antaranya sandal dan sepatu.

"Di situ korban melakukan transaksi dan mengirim ke rekening tertentu yang nantinya diketahui barang tidak pernah datang," kata Awi.

Para pelaku berinisial AF, GR, MR, dan DFY berhasil ditangkap di kawasan Medan, Sumatera Utara dan Aceh. readyviewed Mereka keseluruhan merupakan pelajar SMP dari sekolah yang berbeda.

Awi mengatakan, para pelaku telah meraup keuntungan hasil penipuan lebih dari Rp 100 juta. Hasil kejahatan itu digunakan untuk membeli barang kebutuhan pribadi dan foya-foya.

"Yang menjadi fenomenal, para pelaku ini anak-anak di bawah umur," ujarnya.

Awi membenarkan bahwa salah satu korban dari penipuan ini merupakan anak dari Presiden Jokowi. Berdasarkan informasi, sosok yang dimaksud adalah Kaesang Pangarep.

"Di antaranya (anak Presiden). Ada puluhan korban. Pesan moralnya anak-anak di bawah umur inilah yang harus kita awasi terkait literasi dan dunia maya. Kita sama-sama bertanggung jawab," beber Awi.

 

3 dari 4 halaman

Jerat Pasal untuk 4 Bocah SMP

Atas kejadian tersebut, para tersangka dijerat Pasal 45 a ayat 1 jo pasal 28 ayat 1 dan atau Pasal 51 ayat 2 jo Pasal 36 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 379 KUHP jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun dan atau denda paling banyak Rp 12 miliar rupiah.

"Penanganan kasus anak-anak yang ditangani Direkorat Siber Bareskrim Polri ada dua kemungkinan. Pertama sesuai UU Perlindungan Anak dilakukan pembinaan kembali dan dikembalikan kepada orang tua, tentu dalam pengawasan Polri, dan kedua restorasi justice," Awi menandaskan. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓