DPR Sentil Kementan Soal Anggaran Pegawai

Oleh Liputan6.com pada 14 Sep 2020, 14:45 WIB
Diperbarui 14 Sep 2020, 14:55 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melakukan kunjungan kerja dalam rangka panen padi di Desa  Karang Tumaritis, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. (Dok Kementan)
Perbesar
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melakukan kunjungan kerja dalam rangka panen padi di Desa Karang Tumaritis, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. (Dok Kementan)

Liputan6.com, Jakarta - Rencana kerja anggaran (RKA) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Tahun 2021 menuai pertanyaan Ketua Komisi IV DPR Sudin. Itu karena anggaran untuk belanja pegawai mencapai Rp 498,62 miliar. Nilai itu setara 29,21 persen dari total anggaran Rp 1,7 triliun.

Sudin pun mempertanyakan hal tersebut di masa kedaruratan kesehatan ini. Selain itu, dia juga mengusulkan agar Pemerintah lebih memilih menggunakan bibit asal luar negeri dibandingkan hasil Balitbangtan.

"Kita melihat RAK di Litbang ini pegawainya saja gajinya hampir setengah triliun. Belum belanja tetap, dan lain-lainnya. Saya berpikir dimana sence of crisis," tegas dia dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Komplek Parlemen, Senin (14/9/2020).

Lanjutnya, dia menilai dengan anggaran yang cukup besar, bibit yang dihasilkan Banglitbangtan Kementan secara kualitas dan kuantitas dianggap masih belum bisa bersaing. Pun, biaya pengembangan benih juga dianggap masih belum kompetitif.

"Dengan anggaran Rp 1,7 triliun. Oh saya pernah menghasilkan bibit cabai, tomat, terus ayam apalah itu. Kalau saya jadi pemerintah, Rp 1,7 triliun mendingan saya beli bibit dari luar saja nggak usah ada Litbang jelas lebih baik. Ga usah ada 30 item tapi sedikit," terangnya.

Oleh karena itu, dia meminta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo agar mampu menekan anggaran belanja pegawai Balitbangtan tahun 2021. Selain itu, Mentan juga diingatkan untuk lebih mengarahkan pengembangan benih oleh Balitabangtan terhadap dua fokus komoditas pangan yakni beras dan jagung dalam rangka mengurangi Ketergantungan akan impor.

"Pak Menteri (Syahrul Yasin Limpo) saya mengatakan kepada Kepala Litbang Kementan, cukup dua fokus saja. Yakni padi dan jagung. Maka, kembangkan secara besar, secara baik, secara mutu yang terbaik," ujar dia.

"Jadi kami tidak berharap beli benih jagung dari pengusaha. Yang mana pengusahanya? Asing! Saya nggak berharap seperti itu, berharapnya inovasi," imbuh dia.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Kementan Gelar Bimtek Tematik untuk Petani dan Penangkar di Kabupaten Banggai

20160704-Pupuk Padi-Karawang- Gempur M Surya
Perbesar
Petani memupuk tanaman padi di Karawang, Jawa Barat, Senin (4/7). Untuk mencapai target swasembada pangan 2016, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20 triliun. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Bertempat di Desa Sumber Agung, pada 7-8 September 2020 dilaksanakan kegiatan Bimtek Tematik Dukungan BBI/BPTP dalam meningkatkan output. Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 orang petani yang berasal dari Desa Sumber Agung dan Kabua-Kabua yang merupakan desa di Wilayah DI Hek. Ada juga 4 orang Penangkar benih di wilayah Kecamatan Nuhon.

Daerah Irigasi (DI) Hek yang terletak di Wilayah BPP Kecamatan Nuhon, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah merupakan salah satu DI yang menjadi kewenangan Kabupaten Banggai. DI Hek mendapatkan intervensi kegiatan dari PPIU Dinas Tanaman Tangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah melalui Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) tahun 2020.

 

Kegiatan Bimtek Tematik sendiri dibuka Ketut Rembun, Kepala UPT Balai Perbenihan Sertifikasi Dan Mutu pada Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut Ketut, kegiatan ini merupakan upaya pemerintah dalam melakukan pemberdayaan ke petani di wilayah irigasi.

"Program IPDMIP di desain agar petani dapat berkembang dan mandiri termasuk dalam hal perbenihan, sehingga ke depan petani bisa mendapatkan benih yang berkualitas dan sesuai dengan yang diinginkan," katanya.

Dia melanjutkan, kalau dalam bidang perbenihan hendaknya petani penangkar bisa melakukan teknis agronomis yang bagus sehingga benih benar-benar terjaga mutunya baik dalam hal genetis maupun fisiologisnya.

Sedangkan narasumber Syafrudin dari BPTP Sulawesi Tengah, menyampaikan bahwa saat ini petani masih ada ketergantungan d

ggaiengan penggunaan pupuk anorganik. Walaupun sebenarnya pupuk adalah nutrisi tambahan bagi tanaman padi.

"Kita berharap petani bisa memulai memanfaatkan sekam untuk proses perbaikan kesuburan tanah sehingga bisa meningkatkan produksi hasil panen," katanya.

Pemberian materi dilakukan juga dengan melakukan praktek langsung di lahan petani. Dalam kunjungan tersebut pemateri memberikan rekomendasi benih yang kemungkinan akan memaksimalkan hasil sesuai kondisi lahan yaitu lahan berlumpur dalam dapat menggunakan benih Impari 30 dan 40. Sedangkan untuk kondisi lahan rawa petani dapat menggunakan benih Impara 5, 7 dan 9.

Peserta Bimtek sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini karena ada keterbaruan pengetahuan terutama materi tentang perlakuan terhadap lahan gambut untuk meminimalisir keracunan pada tanaman padi.

Salah seorang peserta Heri Manggagan menyampaikan terima kasih atas pelaksanaan kegiatan ini dan berharap agar kegiatan serupa bisa dilaksanakan secara intens karena sangat berguna bagi petani.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPP Kecamatan Nuhon Bangun Robi SP menyampaikan bahwa pada tahun 2021 kegiatan IPDMIP akan menyelenggarakan Sekolah Lapang bagi petani di wilayah DI Hek sebanyak 5 kelompok. Lebih lanjut dia juga menyampaikan bahwa rencana kegiatan ini telah tertuang dalam AWPB tahun 2021 pada DPIU Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Banggai.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait