Izin Dipermudah, Yuk Investasi Tambak Udang

Oleh Tira Santia pada 08 Sep 2020, 15:10 WIB
Diperbarui 08 Sep 2020, 15:10 WIB
Sebanyak 60 ribu benih Udang Windu dan 20 ribu benih Ikan Bandeng ini ditaburkan di lokasi tambak khusus yang menggunakan teknologi polikultur biofilter. (Foto Pertamina)
Perbesar
Sebanyak 60 ribu benih Udang Windu dan 20 ribu benih Ikan Bandeng ini ditaburkan di lokasi tambak khusus yang menggunakan teknologi polikultur biofilter. (Foto Pertamina)

Liputan6.com, Jakarta - Pengusaha Tambak Udang Yosep Librata Poeguh mengatakan di masa pandemi sektor usahanya sempat terpuruk pada awal Maret hingga April. Namun setelah memasuki adaptasi kebiasaan baru usahanya mulai kembali normal.

“Bisnis udang ini di masa-masa ini kisaran bulan Maret-April itu sekitar 3 minggu sampai 1 bulan itu bisnis udang mengalami masa-masa sulit. Jadi harga turun drastis karena permintaan negara-negara turun. Tetapi setelah itu kurang lebih 1 bulan harga kembali reborn,” kata Yosep dalam live streaming BNPB terkait Pangan dan peluang bisnisnya di era Adaptasi kebiasan baru’, Selasa (8/9/2020).

Ia menyebutkan, sampai hari ini udang termasuk salah satu komoditas yang unggulan, dan harganya kembali seperti sedia kala sebelum terjadinya wabah pandemi covid-19. Selain itu, juga sudah masuk ke dalam program unggulan perbaikan ekonomi pasca covid-19 oleh Pemerintah.

Selain itu, ia memaparkan, strategi yang dilakukannya agar usaha tambaknya bisa bertahan dan kembali normal yaitu dengan mengimplementasikan teknologi. Tidak hanya itu, juga memperbaiki sistem kerja Sumber Daya Manusia (SDM) nya agar menerapkan protokol Kesehatan.

Tak lupa ia juga berterima kasih kepada perwakilan petambak udang yang mewakili untuk bertemu dengan BKPM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Presiden, dan institusi terkait yang akhirnya menyederhanakan perizinan untuk petambak udang.

“Izin-izin yang tadinya 21 izin sekarang sudah dipangkas hanya menjadi 6 izin saja, ini mungkin berita yang baik teman-teman petambak maupun bagi petambak yang akan masuk ke bisnis tambak. Jadi semakin lama perizinan ini semakin jelas dan mudah,” ujarnya.

Pasalnya, ia menyebut Pemerintah memiliki target pada tahun 2020-2024 untuk menambah produksi udang hingga 250 persen, sehingga perizinan dipermudah. Kemudahan izin ini juga membuka seluas-luasnya investor yang ingin berinvestasi di sektor tambank udang.

“Kita mengajak agar kawan-kawan yang tertarik untuk berinvestasi di bidang tambak udang bisa untuk segera (gabung) karena ini Pemerintah sudah memberikan kemudahan yang cukup luar biasa,” pungkasnya.

Edhy Prabowo Ingin Produksi Tambak Udang 500 Ribu Ton per Tahun

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan restocking 50.000 ekor ikan nilem ke Waduk GOR Jakabaring. (Foto: KKP)
Perbesar
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan restocking 50.000 ekor ikan nilem ke Waduk GOR Jakabaring. (Foto: KKP)

Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. Panjangnya sekitar 99.093 kilo meter. Namun Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyebut hanya 10 persen dari panjang tersebut yang baru dimanfaatkan. Pemanfaatannya pun masih belum maksimal.

"Saya yakin 10 persen itu juga belum maksimal," kata Edhy dalam sambutanya dalam acara Temu Stakeholders Pendidikan dan Bisnis Kelautan dan Perikanan, di Gedung Mina Bahari III, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (16/12).

Laporan yang diterima Edhy dari 1 hektar lahan bila dimanfaatkan oleh pengusaha untuk tambak udang bisa menghasilkan 50 ton udang tiap tahunnya. Jumlah ini makin meningkat drastis bila pelaku usaha melakukan superintensif. Hasilnya bisa 80 ton dalam sekali panen. Bahkan laporan dari Batu di Kabupaten Baru bisa panen 150 ton per hektar.

"Betul kita melihat itu akan berpikir limbahnya gimana?," kata Edhy.

Menteri Edhy Prabowo Ajak Pegawai KKP Perangi KorupsiEdhy Prabowo Minta PUPR Bangun Jalan ke Area Tambak  

Edhy Prabowo melanjutkan, berdasarkan data yang diterima, 1 hektar limbah udang bisa mencemari 26 hektar laut. Namun, saat ini sudah ada aturan instalasi pengelolaan air limbah tambak superintensif. Sehingga tidak boleh lagi limbah dibuang langsung sebelum dipastikan aman dari pencemaran.

"Makanya tugas kita ke depan bukan hanya memproduksi tapi perlu mempertahankan lingkungan," ujar Edhy.

Sementara itu, para pembudidaya seperti nelayan tambak baru bisa menghasilkan 1 ton udang per tahun. Jika dibandingkan dengan pengusaha, tentu saja terjadi perbedaan yang sangat jauh, "Ini ada gape besar," ucap Edhy.

Sebaliknya yang punya nelayan kita, para pelaku budidaya kita, masyarakat baru 1 ton pertahun. Kalau kita ambil angka 50 ton per ha ini ada gape yang besar.

Edhy Prabowo melanjutkan, di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, KKP lewat Direktorat Jenderal Budidaya telah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Bank Mandiri. Hasil kerja sama ini mampu meningkatkan hasil tambak udang sampai 7 ton per hektar dalam sekali panen.

Artinya, lanjut Edhy, anggap saja itu 10 ton. Kalau dari 1 ton bisa naik 5 ton setahun. Lalu dari 300 ribu hektar lahan yang dimiliki dimanfaatkan maksimal misalnya 100 ribu hektar. Maka produksi udang secara nasional akan menghasilkan 500 ribu ton udang dalam satu tahun.

Lanjutkan Membaca ↓