Pasar Dalam Negeri Masih Potensial, UMKM Tinggal Optimalkan Sederet Peluang

Oleh Liputan6.com pada 08 Sep 2020, 15:00 WIB
Diperbarui 08 Sep 2020, 15:00 WIB
UMKM Boneka Bertahan di Tengah Pandemi Corona
Perbesar
Ibu rumah tangga menyelesaikan pembuatan boneka adat Indonesia di Ammie Dolls di Komplek Pondok Tirta, Depok, Kamis (13/08/2020). Pada masa pandemi ini produksi dan penjualan anjlok hingga 95 persen menyebabkan perajin beralih ke bidang lain untuk mencukupi kebutuhan hidup. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti sekaligus Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mendorong UMKM untuk lebih mengoptimalkan peluang di pasar domestik. Sebab pasar domestik dinilai masih seksi untuk menyerap produk lokal karya anak bangsa.

"Kalau kita lihat peluang di pasar domestik itu sangat besar untuk menyerap produk lokal kita. Maka, UMKM kita perlu diarahkan ke pasar domestik," ujar dia dalam webinar yang digagas oleh Bappenas, Selasa (8/9).

Aviliani menyebut perkembangan gaya hidup digital menjadi bukti besarnya peluang yang belum dimanfaatkan oleh UMKM. Tercatat, akses teknologi informasi dan komunikasi sudah menjangkau lebih dari 90 persen populasi masyarakat Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) jumlah UMKM yang sudah memanfaatkan layanan digitalisasi baru mencapai 13 persen. "Artinya ini masih jauh, jumlah UMKM yang memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas cakupan bisnis di dalam negeri," ujarnya.

Terlebih, sambung Aviliani, pada tahun 2030 nanti pemerintah melalui Kemenko Perekonomian memproyeksikan ada 135 juta penduduk Indonesia akan memiliki penghasilan bersih diatas USD 43.600 sebagai konsumen. Imbasnya tingkat konsumsi masyarakat diyakini akan terus melonjak hingga berkali lipat.

Kemudian, pada tahun yang sama pemerintah juga memprediksi jumlah usia penduduk produktif mencapai 60 persen, 27 persen diantaranya adalah penduduk muda dengan rentang usia 16-30 tahun. "Creative class ini akan juga melahirkan permintaan tinggi akan produk kreatif. Terutama produk yang berbasis media dan ICT (content industry)," tegasnya.

Untuk itu, pemerintah baik pusat ataupun daerah didorong perlu memberikan dana alokasi khusus bagi pelatihan pengembangan strategi bisnis UMKM di dalam negeri. Dengan menekankan pemanfaatan digitalisasi dan standarisasi produk berkualitas ekspor.

"Sehingga UMKM domestik mampu berdaya saing. Karena kualitas produk dalam negeri bisa terjamin" pungkasnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Ini Produk UMKM yang Laku Keras Selama Pandemi Corona

Pertamina
Perbesar
PT Pertamina (Persero) siapkan bantuan modal usaha melalui Program Kemitraan untuk bantu UMKM.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Tajudin Noor mengatakan, beberapa produk Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) mengalami penjualan yang cukup tinggi selama pandemi Virus Corona. Beberapa di antaranya adalah masker, jamu dan produk herbal.

"Produk yang tinggi permintaannya di masa pandemi ini masih terkait dengan Covid-19 itu sendiri. Jadi untuk UMKM-UMKM kita ini banyak permintaan terkait pembuatan masker," ujar Tajudin melalui konferensi pers online, Jakarta, Selasa (8/9)

"Ini salah satu produk utama. Kemudian ada produk herbal. Ada semacam jamu, penguat imunitas tubuh. Ini banyak sekali permintaan, ini menjadi penting bagi masyrakat dalam menghadapi pandemi ini. Ada produk handsanitizer dari herbal. Banyak permintaan dari masyarakat, terakhir vitamin," sambungnya.

Tajudin mengatakan, Pertamina sebagai salah satu BUMN yang memiliki banyak mitra binaan berupaya memberi edukasi dan pembinaan agar UMKM mampu memasarkan produk dengan baik. Sehingga UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih besar.

"Pertamina memfasilitasi UMKM-UMKM sebagai produser untuk bisa mendukung kita dalam hal bantuan-bantuan kepada masyarakat dalam pembuatan masker. UMKM tidak saja meladeni Pertamina sebagai mitra kita, tapi juga meladeni umum," jelasnya. 

3 dari 4 halaman

Belum Berorientasi Ekspor

Kinerja Ekspor dan Impor RI
Perbesar
Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Ekspor dan impor masing-masing anjlok 18,82 persen dan ‎27,26 persen pada momen puasa dan Lebaran pada bulan keenam ini dibanding Mei 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meskipun permintaan dalam negeri cukup besar, produk UMKM nampaknya belum mencapai pasar ekspor. Untuk itu, Pertamina mengadakan Smexpo 2020 yang membuka peluang bagi UMKM untuk memasarkan produknya lebih luas sebab pengunjung acara tersebut tidak hanya dari dalam negeri.

"Ekspor, belum ada dari monitoring kami. Mudah-mudahan kami salah. Kita harapkan di Smexpo ini, itu menjadi salah satu market place. Smexpo teasernya tidak hanya berbahasa Indonesia, kita harapkan ini menjadi salah satu pintu, UMKM berinteraksi dengan dunia luar. Diharapkan produk kita menjadi menarik di mata internasional," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait