Menteri Teten: Peternak Ayam Harus Bentuk Koperasi, Biar Efisien

Oleh Tira Santia pada 01 Sep 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 01 Sep 2020, 14:00 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki usai meresmikan UKM Rumah Produksi Ayam Kampung Olahan  dengan merek NatChick  di Bogor, Selasa (1/9/2020).
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki usai meresmikan UKM Rumah Produksi Ayam Kampung Olahan dengan merek NatChick di Bogor, Selasa (1/9/2020).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyarankan peternak unggas khususnya ayam yang sebagian besar adalah UMKM untuk berkoperasi, agar bisa mencapai skala bisnis, lebih efisien dalam proses produksinya.

"Peternak ayam yang umumnya UMKM merupakan salah satu motor penggerak ekonomi rakyat. Pemerintah berkomitmen melindungi dan membantu mereka untuk bisa tumbuh melalui koperasi, karena saat ini peternak perorangan atau skala kecil akan susah bersaing di pasar," kata Teten usai meresmikan UKM Rumah Produksi Ayam Kampung Olahan dengan merek NatChick di Bogor, Selasa (1/9/2020).

Ia mencontohkan kekuatan koperasi agribisnis di Belanda dan Selandia Baru. Memperkuat koperasi peternakan, termasuk perunggasan memang harus dilakukan agar usaha mereka dapat lebih berkembang.

Teten juga mengapresiasi pada PT SUI sebagai industri peternakan ayam lokal atau ayam kampung, yang mau mengembangkan UKM rumah produksi ayam kampung olahan ini, dan merangkul UMKM lain dalam pemasarannya sebagai reseller. Apalagi dalam pemasarannya sudah menggunakan aplikasi.

" Hal ini memberikan peluang usaha pada rakyat untuk menjadi pelaku UMKM. Saya sudah mencicipi olahan ayam kampungnya, rasanya enak banget. Apalagi olahan ayamnya banyak aneka bumbu rempah rempah dan ini juga peluang baru bagi UMKM untuk bisa memasarkan hasil rempah-rempahnya," ujarnya.

Menurutnya langkah yang dilakukan PT SUI menggandeng UMKM ini sudah benar, karena peternakan ayam dan makanan olahan ayam merupakan domainnya UMKM, terlebih yang dikembangkan adalah ayam kampung.

" Sejarah ayam itu kan awalnya dari tiga wilayah yaitu Indonesia Hindustan dan China. Namun industri ayam modern kini dikuasai oleh negara negara besar seperti di eropa dan Amerika,” katanya.

Selain itu, Teten melihat potensi pasar bagi UMKM peternak ayam kampung, masih sangat besar. Sebagai sumber protein hewani , konsumsi perkapita ayam di Indonesia tercatat 12 -13 kilogram perkapita pertahun, yang masih lebih rendah dibanding Malaysia yang mencapai 38-40 kg per tahun.

Peningkatan konsumsi ayam ini dapat memacu penyerapan ayam peternak rakyat yang berlimpah. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir Indonesia mengalami kondisi kelebihan pasokan ayam akibat suplai day old chicken (DOC) impor yang berlebih, sehingga membuat harga ayam peternak anjlok.

Untuk itu apabila peningkatan konsumsi dapat terealisasi dengan baik, maka dampaknya bakal menstabilisasi kembali harga ayam peternak, dan akan terjadi keseimbangan yang berkelanjutan antara produksi dengan konsumsi secara nasional.

 

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Koperasi Primer dan Sekunder

Tembus Rp 50 Ribu per Kg, Peternak Keluhkan Harga Bibit Ayam Fluktuatif
Perbesar
Peternak memberi makan ayam pedaging broiler di kawasan Cipelang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (24/7). Tingginya harga daging ayam juga dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan yang masih import seiring kenaikan dolar terhadap rupiah. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Ketua Umum Koperasi Pinsar Indonesia, Singgih Januratmoko menambahkan, selama ini peternak unggas yang mandiri adalah 90 persen dari pelaku usaha perunggasan di tanah air, sulit menghadapi persaingan dengan konglomerasi peternakan.

"Maka membentuk koperasi mulai dari primer, sekunder dan induk saat ini sudah keharusan jika peternak mandiri maju menjalankan usahanya. Kami berharap koperasi ini bisa jadi alternatif bagi industri perunggasan di tanah air, ujar Singgih.

Lanjut Singgih, nantinya koperasi-koperasi tersebut akan memiliki usaha mulai dari pengadaan pengadaan bahan baku pakan, pabrik pakan, pembibitan serta pemasaran produk hilir. Untuk saat ini sudah ada sembilan koperasi perunggasan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Selain menambah jumlah koperasi primer, juga akan membangun koperasi sekunder serta induk koperasi,” tambahnya.

Ia juga berharap dukungan pemerintah terutama untuk menyempurnakan kelembagaan, pelatihan serta akses permodalan.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Konservasi

Tembus Rp 50 Ribu per Kg, Peternak Keluhkan Harga Bibit Ayam Fluktuatif
Perbesar
Peternak memberikan makan pada ayam pedaging broiler di kawasan Cipelang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (24/7). Harga daging ayam naik mencapi angka Rp 50 ribu per kilogram. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Sementara itu, Dirut PT SUI Nuryanto mengatakan SUI merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang konservasi dan peternakan terpadu ayam asli Indonesia, berdiri pada tahun 2011.

Sebagai program konservasi, pihaknya sudah melakukan upaya pelestarian sumber daya genetik ayam asli Indonesia antara lain ayam Sentul (Ciamis, Jawa Barat), ayam Pelung (Cianjur, Jawa Barat) dan ayam Kedu (Temanggung, Jawa Tengah) serta pengembangan peluang ayam hitam (Cemani) untuk konsumsi.

Dengan perjalanan panjang dan proses seleksi yang ketat, akhirnya berhasil memproduksi jenis ayam dengan genetik berkualitas.

Jumlah induk ayam saat ini yang dimiliki sekitar 120.000 ekor yang mampu menghasilkan 600.000 ekor anak ayam per bulan atau 7,5 juta per tahun menjadikan PT Sumber Unggas Indonesia sebagai peternakan ayam kampung terbesar di Indonesia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya