Corona Tak Kunjung Pergi, Pemerintah Kenalkan Konsep LEC di Era New Normal

Oleh Liputan6.com pada 26 Agu 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 26 Agu 2020, 13:00 WIB
Petugas Medis Tangani Pasien Virus Corona di Ruang ICU RS Wuhan
Perbesar
Han Yi, petugas medis dari Provinsi Jiangsu, bekerja di bangsal ICU Rumah Sakit Pertama Kota Wuhan di Wuhan, Provinsi Hubei, 22 Februari 2020. Para tenaga medis dari seluruh China telah mengerahkan upaya terbaik mereka untuk mengobati para pasien COVID-19 di rumah sakit tersebut. (Xinhua/Xiao Yijiu)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mulai menerapkan less contact economy (LEC) untuk menggeliagkan perekonomian nasional di era kebiasaan baru ini. Menyusul prediksi berbagai lembaga internasional yang menyatakan pandemi Corona akan berlangsung dalam waktu yang lama.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, LEC ialah pengurangan interaksi fisik dalam semua kegiatan ekonomi. Menyusul adanya perubahan gaya hidup dan tatanan ekonomi akibat pandemi Corona.

"Penggunaan LEC sebagai upaya pemerintah untuk tetap memaksimalkan kegiatan ekonomi. Tentunya dengan diiringi penerapan protokol kesehatan," ujar dia dalam webinar bersama LIPI, Rabu (26/8).

Menurutnya dalam skema LEC segala aktivitas ekonomi akan dilakukan secara virtual yang bergantung pada kecanggihan teknologi. Imbasnya kegiatan ekonomi bersifat konvensional atau yang bergantung pada interaksi secara langsung akan menjadi kian minim.

Beberapa contoh dari penggunaan skema LEC ialah e-commerce, revolusi industri 4.0, sampai transportasi online. "Seperti orang berjualan di e-commerce itu semakin ramai. Hal itu dikarenakan jarak tidak menjadi masalah," jelas dia.

Sehingga ia meyakini skema LEC akan terus berkembang di Indonesia. Seiring terjadinya 'hyperconnectivity' antar manusia melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan, pemanfaatan TIK juga dinilai kian menarik bagi pelaku UMKM domestik untuk meningkatkan bisnisnya. "Maka, akan adanya pola pergeseran bisnis," imbuh dia.

Lebih jauh, Bambang menyebut, sejumlah kebijakan dan regulasi yang mendukung pengembangan skema LEC di Indonesia kian ramah. Diantaranya PP No 71 Tahun/2017 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Pun, BIJK BPPT telah diakui sebagai Penyelenggara Sertifikat Elektronik. Juga Kepmen Kominfo No 969/2018:IOTENTIK resmi menjadi PSrE pertama pemerintah.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

 

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

2 dari 3 halaman

Pandemi Corona Bikin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sulit Diprediksi

Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Turun 5,6 Persen Akibat Covid-19
Perbesar
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Tim Asistensi Menko Perekonomian sekaligus Sekretaris Eksekutif I Komite Kebijakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Raden Pardede mengaku sulit membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian global yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Bahkan, sekelas lembaga-lembaga internasional pun beberapa kali mengubah proyeksinya.

"Jadi dalam situasi seperti ini kita harus akui sangat sulit sekali kita memastikan buat proyeksi pertumbuhan," kata dia dalam video conference di Jakarta, Rabu (5/8).

Dia mencontohkan, Bank Dunia hingga OECD pun termasuk yang merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global. Dari yang sebelumnya positif, kemudian negatif, dan semakin negatif proyeksinya.

"Hampir seluruh lembaga internasional merevisi ke bawah faktor ketidakpastian ini terutama disebabkan oleh namanya pandemi covid ini sangat tergantung sekali apakah nanti kita bisa menemukan vaksin dengan cepat atau tidak," kata dia.

Menurut dia, faktor vaksin menjadi kunci utama agar pandemi Covid-19 bisa teratasi. Apalagi, saat ini penemuan vaksin telah diperlombakan hampir diseluruh negara dunia.

"Tidak ada yang bisa menjamin apakah positif atau negatif nanti ini kita harus akui memang ini berbeda dengan krisis-krisis yang sebelumnya krisis keuangan. Dengan rendah hati menyatakan akan sangat sulit sekali saya sebagai ekonom boleh katakan kali ini sulit sekali untuk membuat 1 proyeksi tahun depan," jelas dia. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓