Tak Mau Hidup Mewah, Simak Cara Miliarder Warren Buffett Habiskan Uang

Oleh Liputan6.com pada 22 Agu 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 25 Agu 2020, 00:17 WIB
Warren Buffet
Perbesar
Buffet tinggal di rumah yang sudah dia tempati sejak 1958 di Omaha, Nebraska. Rumah itu tidak memiliki pagar.

Liputan6.com, Jakarta - Bos besar Berkshire Hathaway sekaligus seorang filantropis, Warren Buffett berpegang pada prinsip hidup hemat. Meski memegang predikat orang terkaya ke-7 di dunia, dia memilih untuk tidak menghabiskan uangnya membeli barang-barang mewah, seperti rumah-rumah besar ataupun kapal pesiar pribadi.

Buffet bercerita kalau dia memilih untuk sarapan di restoran cepat saji dan mengeluarkan tidak lebih dari USD 3,17 (setara Rp46.700). Investor ternama ini bahkan menggunakan handphone flip (buka-tutup) jadul selama bertahun-tahun dan baru mengganti ponselnya menjadi iPhone 11 pada Februari 2020. Adapun, Berkshire juga memiliki 5,9 persen saham Apple.

Dilansir dari CNBC, Warren Buffett menegaskan bahwa dirinya juga tidak tertarik untuk memiliki banyak rumah mewah ataupun mobil yang berlipat ganda jumlahnya. Sehingga, tidak heran jika dia masih meninggali rumah dengan luas sekitar 2 ribu meter persegi di Omaha, yang dia beli seharga USD 31.500 pada tahun 1958 (harga jual rumah tersbut akan berkisar USD 285.000 saat ini).

Meskipun begitu, dia juga sempat membeli rumah kedua di komplek pantai Laguna, California seharga USD 150.000 dan sudah dijual pada 2018 dengan harga USD 7,5 juta.

Sebelumnya, di tahun 2014 Buffet juga membeli sebuah mobil sedan yang seharga USD 46 ribu. Dia mengaku, hal ini dilakukan karena putrinya, Susie terus membujuk dan berkata kalau akan terasa memalukan bila sang ayah terus menerus mengendarai mobil sedan tua keluaran 2006-nya.

Selain mobil, Buffett juga memiliki sebuah jet pribadi. "Satu-satunya barang yang paling banyak memakan uang saya. Meskipun begitu, transportasi ini memangkas waktu saat saya harus berpergian ke sana ke mari," ucap Warren.

Di samping mengeluarkan uang untuk tempat tinggal dan transportasi, Buffet juga aktif menjadi filantropis bersama Bill dan Melinda Gates. Sejak 2006, dia telah berdonasi sebanyak lebih dari USD 37 Juta.

Adapun di tahun 2020, kekayaan bersih Buffett mengalami sedikit pukulan akibat pasar saham yang bergejolak serta anjloknya perekonomian akibat pandemi virus Covid-19.

Terlebih Berkshire Hathaway sudah mengalami penurunan sebanyak 8 persen sejak awal tahun. Hal ini turut memotong beberapa miliar dari kekayaan bersih Warren Buffett. Walaupun harus kehilangan beberapa miliar dolar, Buffett tidak absen untuk mengamalkan USD 2,9 miliar-nya sebagai janji bahwa dia akan memberikan sebagian besar uangnya untuk berbagi.

 

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:


Harus Mengalami Penurunan

CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffet
Perbesar
CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffet tidak memiliki smartphone.

Uang-uang yang Buffett gelontorkan baik untuk amal maupun perusahaannya ini berakibat pada bergesernya peringkat di Indeks Bloomberg Billionaires. Buffet harus tergeser ke peringkat tujuh predikat orang terkaya di dunia setelah sebelumnya menempati peringkat ke-4.

Sementara itu, Bloomberg juga memperkirakan bahwa kekayaan Buffett sudah menyusut sekitar USD 11 Miliar sejak awal tahun 2020. Sejak Rabu (19/8), Bloomberg mencatat kekayaan Buffett sekitar USD 79 Miliar.

Reporter Magang: Theniarti Ailin

Sumber: Merdeka.com


Harga Emas Melonjak Usai Warren Buffett Borong Saham Perusahaan Tambang

warren-buffet-131230c.jpg
Perbesar
Warren Buffett

 Harga emas naik di kisaran 2 persen pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Pendorong kenaikan harga emas ini karena nilai tukar dolar AS mengalami tekanan.

Selain itu, kenaikan harga emas juga disebabkan penurunan imbal hasil surat utang AS dan rencana Warren Buffett untuk membeli saham perusahaan penambang emas meningkatkan minat investor.

Mengutip CNBC, Selasa (18/8/2020), harga emas di pasar spot naik 1,9 persen menjadi USD 1.981,41 per ounce dan harga emas berjangka AS ditutup naik 2,5 persen pada USD 1.998,70 per ounce.

Pada pekan lalu harga emas mencatatkan penurunan terbesar sejak Maret karena investor mengatur kembali portofolio innvestasi mereka setelah harga emas batangan turun tajam dari rekor puncak di USD 2.072,50 per ounce pada 7 Agustus 2020.

"Penurunan tajam harga emas ini lebih disebabkan aksi atau selera spekulatif untuk logam mulia," kata analis komoditas TD Securities Daniel Ghali.

Ia menambahkan bahwa fakta sekarang bahwa Warren Buffett akan membeli saham sebuah perusahaan tambang emas yang besar membantu sentimen logam mulia sehingga kembali merangkak naik.

Bursa AS telah menerima surat informasi pengajuan investasi baru sebesar 20,9 juta saham dari Berkshire Hathaway kepada salah satu perusahaan pertambangan terbesar dunia, Barrick Gold Corp.

“Menyadari bahwa Warren Buffett telah membeli saham dan bukan komoditas emas memberikan narasi yang menarik bagi mereka yang ingin membeli emas. Sentimen positif sekarang ini membantu mereka menarik pelatuknya,” tambah Ghali.

Selain itu, sentimen lain yang mendorong harga emas adalah nilai tukar dolar AS yang jatuh ke level terendah lebih dari satu minggu. Patokan imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun yang turun juga ikut mendorong harga emas.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya