Terhubung 5 Benua, Bandara Bali Dirancang Jadi Super Hub Pariwisata

Oleh Tira Santia pada 14 Agu 2020, 19:15 WIB
Diperbarui 14 Agu 2020, 19:15 WIB
(Foto: Dok PT Angkasa Pura I)
Perbesar
Bandara I Ngurah Rai Bali (Foto: Dok PT Angkasa Pura I)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah merancang skema menjadikan Bali sebagai Super Hub untuk pariwisata. Bandara Bali akan menjadi kawasan ekonomi dunia yang melayani 5 benua.

“Kita ini sedang kita studi, kita akan koordinasikan bersama-sama dengan stakeholder, termasuk dengan teman-teman airlines, sehingga kita akan mempunyai konsep yang matang tentang super hub,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dalam webinar Transportasi untuk Merajut Keberagaman, Jumat (14/8/2020).

Kata Novie, Bali bisa terkoneksi dengan 5 benua besar itu Australia, Afrika, Eropa, Asia, dan Amerika baik Utara, Tengah, bahkan Amerika Selatan. Pemerintah memperbanyak layanan penerbangan dengan kapasitas yang lebih besar menjadi 50 juta penumpang per tahun.

“Kita ketahui bahwa Bali ini akan kita besarkan tidak tanggung-tanggung, yang saat ini kapasitasnya hanya sekitar 35 -37 juta penumpang per tahun, ke depan akan kita kembangkan sampai dengan mencapai 50 juta kapasitas penumpang,” ujarnya,

Sehingga fungsi dari Super Hub Bali ini selain berfungsi untuk pariwisata, juga diproyeksikan sebagai bandara transhipment kargo dan penumpang internasional bersama bandar udara Soekarno Hatta (Cargo Village).

Terlihat dengan besarnya perhatian yang sangat tinggi dari dunia internasional, Bandara Ngurah Rai Bali termasuk bandar udara yang paling siap sebagai super hub.

“Ke depannya akan dibangun Bali Baru (Bali Utara) sebagai bandara yang melayani Kawasan tourism atau Kawasan wisata Bali dan sekitarnya,” katanya.

Tentunya hal ini sejalan dengan arahan Presiden, untuk mengembangkan transportasi udara untuk mendukung perekonomian suatu daerah lebih berkembang lagi untuk kedepannya.

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

Ikuti Perintah Jokowi, Kemenhub Tata Ulang Keberadaan Bandara Internasional

Bandara I Gusti Ngurah Rai (Foto: Dok PT Angkasa Pura I)
Perbesar
Bandara I Gusti Ngurah Rai (Foto: Dok PT Angkasa Pura I)

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menata ulang rute penerbangan internasional dan bandara internasional. Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang mempertanyakan jumlah bandara internasional yang sangat banyak. 

"Tidak perlu terlalu banyak bandara internasional. Otomatis ini akan ada hub-primer dan sub-hub," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Novie Riyanto dalam Webinar bertajuk Transportasi Untuk Merajut Keberagaman, Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Kementerian Perhubungan juga akan membuat jaringan khusus untuk Papua. Sebab, banyak daerah di Papua yang tidak bisa ditempuh jenis transportasi lain kecuali lewat jalur udara.

"Kita juga harus punya jaringan khusus di Papua sebab kebanyakan daerah di sana hanya bisa diakses oleh transportasi udara," kata dia.

Sementara itu terkait wilayah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan (3TP) akan dibuat 35 bandara udara baru. Ini akan menambah 353 rute penerbangan yang ada sekarang.

"Kita bangun rute 35 bandara di wilayah 3TP," sambungnya.

Kementerian Perhubungan juga memiliki angkutan udara perintis yang harus terhubung dengan rute perjalanan internasional. Ini sangat penting dalam rangka menunjang produk ekspor dalam negeri.

Bahkan pemerintah telah menyiapkan daerah KEK yang menghasilkan produk untuk konsumsi domestik internasional. Selain itu ada juga komoditas dengan berbagai ciri dari tiap daerah.

"Oleh sebab itu kita harus mengakomodir komoditas ini secara sistematis yang kadang-kadang berlebih-lebihan di satu daerah untuk didistribusikan ke daerah lain," pungkasnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓