Pidato Kenegaraan Jokowi Belum Mampu Bawa Rupiah Menguat

Oleh Tira Santia pada 14 Agu 2020, 11:12 WIB
Diperbarui 14 Agu 2020, 11:12 WIB
Hari Ini, Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (4/3/2020). Rupiah ditutup menguat 170 poin atau 1,19 persen menjadi Rp14.113 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.283 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Jumat ini. Pagi ini Presiden Jokowi telah menyampaikan Pidato Kenegaraan di Gedung MPR/DPR.

Mengutip Bloomberg, Jumat (14/8/2020), rupiah dibuka di angka 14.799 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.775 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.799 per dolar AS hingga 14.841 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih melemah 7,03 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referesi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.917 per dolar AS. Menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.877 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat, mengatakan, rupiah kelihatannya masih berpotensi melemah hari ini.

"Dari dalam negeri, potensi resesi di Indonesia yang diperkirakan banyak analis, menjadi faktor penekan," ujar Ariston seperti dikutip dari Antara, Jumat (14/8/2020).

Sementara dari eksternal, lanjutnya, paket stimulus AS yang masih belum disetujui dan indikasi pemulihan ekonomi yang lambat juga bisa mendorong pelemahan rupiah.

Ariston memperkirakan rupiah berpotensi menguat di kisaran Rp14.700 per dolar AS hingga Rp14.850 per dolar AS.

Pada Kamis (13/8) lalu, rupiah ditutup melemah 15 poin atau 0,1 persen menjadi Rp14.775 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.760 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

Jokowi Harus Sebar Optimisme Pertumbuhan Ekonomi RI

Presiden Jokowi mengenakan baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020).
Perbesar
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020). (dok Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan menyampaikan Pidato Kenegaraan, RUU Tentang APBN dan Nota Keuangan 2021 dalam sidang tahunan MPR di Jakarta, hari ini (14/8). Proyeksi atas pertumbuhan ekonomi di tahun depan pun menjadi menarik lantaran Indonesia masih berjuang memerangi pandemi Covid-19.

Ekonom Center of Reforms on Economic (CORE), Piter Abdullah menyatakan, bahwa dalam penyampaiannya pemerintah perlu optimis dalam menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional 2021. Pertumbuhan ekonomi sebesar 6-7 persen di tahun depan dinilai tak sulit diraih, asalkan pandemi bisa segera diselesaikan pada tahun ini.

"Kalau kita lihat dari berita atas asumsi yang ada, untuk asumsi dasar ekonomi makro disepakati pertumbuhan ekonomi 4,5-5,5 persen pada 2021 relatif kecil. Padahahal potensi untuk tumbuh berkisar 6-7 persen bisa dicapai asalkan pandemi bisa cepat diselesaikan tahun ini," kata Pieter kepada Merdeka.com, Jumat (14/8).

Terlebih, sambung Pieter, pada kuartal II 2020 kontraksi ekonomi sebesar -5,32 persen secara year on year (yoy) dianggap relatif tidak terlalu dalam. Sehingga beban kerja yang dipikul pemerintah tidak terlalu berat agar ekonomi nasional dapat tumbuh lebih tinggi dari apa yang diasumsikan saat ini.

Untuk itu, Pieter mengimbau pemerintah sebaiknya harus lebih all out dalam meningkatkan serapan program PEN yang sejauh ini masih dibawah target. Program dengan pagu anggaran sebesar Rp695,2 triliun diyakini mampu untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi andaikata dapat segera terserap sepenuhnya di era kebiasaan baru ini.

Kendati demikian, ia juga meminta pemerintah untuk memastikan kondisi APBN 2020 tetap dalam keadaan sehat. Semisal menjaga defisit agar tidak semakin melebar. Sebab lebarnya defisit menandakan kondisi APBN dalam keadaan tidak sehat.

"Balik lagi, pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 persen sebenarnya mampu kok. Yaitu asal di support oleh pandemi yang harus usai tahun ini dan APBN yang kuat. Jadi harus optimis ya," tutupnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓