Cerita 3 Remaja Beasiswa asal China yang Sukses Jadi Miliarder di Singapura

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 11 Agu 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 11 Agu 2020, 21:00 WIB
FOTO: 55 Tahun Kemerdekaan Singapura
Perbesar
Masyarakat menyaksikan perayaan Hari Kemerdekaan di Singapura, Minggu (9/8/2020). Singapura pada 9 Agustus 2020 memperingati 55 tahun kemerdekaannya. (Xinhua/Then Chih Wey)

Liputan6.com, Jakarta Singapura banyak dikenal sebagai negara kecil yang jadi pusat bisnis di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah pebisnis besar bahkan miliarder dunia juga senang bermukim dan berinvestasi di negara pulau tersebut.

Selain itu, Negeri Singa ini juga ternyata sukses mendidik beberapa warga asing untuk menjadi miliarder dunia. Seperti dialami tiga sekawan David Chen, Forrest Li dan Gang Ye, yang merupakan pendiri perusahaan Sea Ltd.

David Chen merupakan warga China yang meninggalkan negara asalnya pada saat remaja untuk bersekolah di Singapura.

Dia mungkin tak menyadari bahwa kota angkatnya ini akan menuntun dirinya menjadi seseorang yang superkaya. Adapun kekayaan bersihnya kini mencapai USD 1,3 miliar.

Bersama Li dan Ye, Chen kini duduk sebagai salah seorang terkaya di Singapura. Ini berkat perkembangan pesat Sea Ltd yang mereka gawangi selama masa pandemi Covid-19.

Perusahaan yang dulunya bernama Garena ini terus mendulang pundi-pundi uang berkat kepopuleran sejumlah aplikasi, seperti game mobile Free Fire dan platform e-commerce Shopee.

Sejauh ini, Sea Ltd merupakan perusahaan dengan nilai pasar terbesar di Singapura. Kesuksesan itu tidak terjadi secara kebetulan. Ini merupakan hasil dari upaya Pemerintah Singapura yang coba menarik talenta muda asing berbakat ke pasarnya.

Chen dan Ye dulunya datang ke Singapura dengan beasiswa untuk melanjutkan studi. Sementara Li yang tumbuh besar di kota pelabuhan Tianjin, China pindah ke Singapura mengikuti istrinya setelah memperoleh gelar MBA di Stanford University.

"Menarik bakat asing yang tepat sangat penting untuk tumbuh kembangnya brand dan perusahaan Singapura yang sukses. Sebagai negara kecil, penting untuk tidak hanya tetap relevan tapi juga terdepan," ujar Daniel Wong Here Boon, seorang Profesor dari National University of Singapore (NUS), dikutip Bloomberg, Selasa (11/8/2020).

Itu tergambar dari kesuksesan Pemerintah Singapura merekrut Chen dan Ye, remaja asal China yang datang melalui program beasiswa pada periode 1990. Chen belajar teknik komputer di Nus, sementara Ye masuk ke Hwa Chong Institution and Raffles Junior College.

Keduanya bersama Li kemudian membentuk Sea Ltd, sebuah perusahaan berbasis internet yang kini sangat besar. Singapura seakan bergantung kepada ketiganya, yang kini telah menjadi penduduk tetap.

Bahkan Li saat ini diberi kepercayaan sebagai salah seorang anggota dewan Economic Development Board, lembaga pemerintah yang bertugas mendorong pertumbuhan ekonomi serta memposisikan Singapura sebagai pusat bisnis global.

 

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

2 dari 3 halaman

Perangi Trump, Miliarder Internet Ini Sumbang USD 170 Juta untuk Jurnalistik

banner infografis
Perbesar
Ilustrasi Miliarder (Liputan6.com/Deisy)

Miliarder Internet Craig Newmark tercatat telah menggelontorkan dana hingga USD 170 juta untuk jurnalisme, sebuah bidang yang dianggapnya rawan tindak kejahatan. Uang bernilai besar tersebut dikeluarkan untuk memerangi pelecehan terhadap jurnalis hingga keamanan siber.

Pendiri situs internasional Craigslist ini menjunjung kebebasan pers sebagai bagian dari paham demokrasi yang dianut Amerika Serikat. Oleh karenanya, ia mengapresiasi koresponden Fox News Chris Wallace yang berani membantah Presiden Donald Trump, yang mengklaim tingkat kematian akibat Covid-19 di Negeri Paman Sam sebagai salah satu terendah di dunia.

Newmark mulai berpikiran akan peran vital pers ketika dirinya duduk di bangku sekolah menengah atas pada 1970. Dalam hal ini, ia berterimakasih kepada guru sejarahnya.

"Guruku mengajarkan bahwa pers yang dapat dipercaya merupakan sistem kekebalan pada demokrasi," terang Newmark seperti dikutip Forbes, Senin (10/8/2020).

Paham tersebut terus dipegangnya, dan berpuncak pada 2016 ketika Donald Trump memenangkan pemilu Amerika Serikat. Pada saat itu, ia menilai sistem kekebalan demokrasi Negeri Paman Sam butuh bantuan.

Sejak saat itu, pengabdian terbesarnya seakan berpindah pada dunia jurnalisme. Pada Juni 2018, Newmark menyumbangkan USD 20 juta kepada CUNY Graduate School of Journalism, yang kemudian mengubah namanya menjadi Craig Newmark Graduate School of Journalism.

Pada Februari 2019, ia kembali memberikan donasi lainnya sebesar USD 10 juta kepada Columbia Journalism School. Pemberian itu dilakukan guna merilis pusat studi baru untuk etika dan keamanan jurnalisme.

Namun donasinya sempat menjadi sorotan pada September 2018, ketika Newmark menghibahkan dana USD 20 juta untuk mendanai pembentukan organisasi berita nirlaba The Markup. Media tersebut didirikan untuk menjadi corong investigasi tentang bagaimana Big Tech mempengaruhi kehidupan sehari-hari di Amerika.

Kekisruhan mulai terjadi ketika ada aksi pemecatan kepada pemimpin redaksi, Julia Angwin, yang menuduh adanya permainan di dalam tim. Setelah pemecatan Angwin, staf editorial mengundurkan diri secara massal sebelum situs web diluncurkan.

Sejumlah jurnalis juga percaya bahwa Newmark telah merampas pendapatan ratusan juta dolar dari surat kabar. Merujuk pada data milik News Media Alliance, pendapatan media cetak sekitar 35,6 persennya berasal dari iklan baris di halamannya.

Kasus ini telah menjadi perhatian Analis Media Thomas Baekdal, yang menunjukan bahwa sirkulasi surat kabar telah menurun jauh sebelum Craigslist muncul dengan berita kabelnya.

Baekdal juga berpendapat, Craigslist hanyalah salah satu dari ribuan marketplace online yang mengambil alih pendapatan iklan dari surat kabar. Menurutnya, masih ada beberapa perusahaan lain seperti eBay dan Autotrader.com yang juga memiliki bisnis seperti usahanya Newmark.

"Saya pikir dunia tidak akan berubah seandainya Craigslist tidak pernah diciptakan juga," ujar Baekdal menanggapi komentar New York Times yang menyebut Newmark sebagai musuh koran.

 

3 dari 3 halaman

Tonton Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓