Indonesia Punya Potensi EBT 417 Giga Watt, Tapi Baru Dimanfaatkan 2,5 Persen

Oleh Athika Rahma pada 10 Agu 2020, 19:30 WIB
Diperbarui 10 Agu 2020, 19:53 WIB
20160302-Panel Surya ESDM-Jakarta- Gempur M Surya
Perbesar
Seorang petugas memeriksa panel surya di kantor Kementrian ESDM, Jakarta, Rabu (2/3/2016). Dalam APBN 2016, Kementerian ESDM mengalokasikan dana sebesar Rp 1,4 triliun untuk pengembangan aneka energi terbarukan. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyatakan, potensi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia mencapai 417,8 giga watt (GW).

Namun demikian, pemanfatannya masih sangat sedikit, yaitu baru 10,4 GW atau sekitar 2,5 persennya. Potensi ini terdiri dari energi samudera, panas bumi, bioenergi, bayu (udara), hidro (air) dan surya (matahari).

"Terdiri dari ocean resources kita punya potensi hampir 18 GW (17,9 GW) tapi masih 0 persen, belum termanfaatkan. Kita masih bebefapa lokasi kita uji coba dulu untuk dihitung keekonomiannya," ujar Arifin dalam webinar Rakyat Merdeka dan SRE ITB, Senin (10/8/2020).

Kemudian potensi energi lain ialah panas bumi, yaitu sebesar 23,9 GW namun baru termanfaatkan 2.130 MegaWatt (MW) atau 8,9 persennya. Lalu bioenergi memiliki potensi 32,6 MW dan baru dimanfaatkan sebanyak 1.895,7 MW atau 5,8 persennya.

"Bioenergi ini sangat penting karena kalau nanti kita rasakan minyak habis, gas sedikit, bioenergi salah satu andalan kita. Minggu lalu saya saksikan peresmian pabrik Katalis di Bandung yang memproses sumber bioenergi untuk jadi bahan bakar," ujar Arifin.

Ada juga potensi EBT energi angin sebesar 60,6 GW dan baru dipakai sebesar 154,3 MW atau 0,25 persennya, salah satunya terpasang di Sulawesi.

Potensi energi air juga cukup banyak, yakni 75 GW namun baru dimanfaatkan 6.078,4 MW atau 8,1 persen.

"Nah, yang terbesar ini adalah energi surya, itu di atas200 GW (207, 8 GW), yang baru termanfaatkan 150,2 MWp (Mega Watt peak) atau 0,07 persen dari total keseluruhan. Kita baru tahun ini launching 2 proyek yang di Jawa Barat satu, sekita 140 MW, dan di Bali 25 MW," katanya.

Sementara untuk persebaran di Indonesia, potensi energi mikrohidro tersebar terutama di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Lalu potensi EBT Surya paling banyak berada di Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara dan Jawa Timur. Lalu, untuk potensi angin (>6 m/s) terutama terdapat di NTT, Jawa Barat, Sulawesi Selatab, Maluku dan Jawa Timur.

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Target Buaran EBT 23 Persen di 2025 Diyakini Bakal Tercapai

20160302-Panel Surya ESDM-Jakarta- Gempur M Surya
Perbesar
Petugas memeriksa panel surya (Solar Cell) di gedung ESDM, Jakarta, Rabu (2/3/2016). Manfaat pengunaan panel surya untuk industri dapat menghemat energi serta biaya ketika puncak beban listrik tinggi di siang hari. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Sebelumnya, situasi pandemi yang melanda Tanah Air, berimbas pada turunnya pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen, yang turut mempengaruhi proyeksi target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 mendatang.

Board of Director at International Geothermal, Abadi Poernomo mengungkapkan bahwa regulasi untuk proyek ini sudah jelas, dan hanya menunggu kemauan (political will dari pemerintah.

"Apabila political will itu ada, semuanya pasti bisa tercapai," ujaranya dalam webinar Menakar Kembali Transisi Energi di Indonesia, Rabu (3/6/2020).

Saat ini, kata Abadi, yang paling mudah dilakukan adalah pengembangan energi surya, apalagi jika bangunan-bangunan baru yang harganya di atas Rp 2 miliar diharuskan memakai panel surya atau rooftop. Begitu pula dengan gedung-gedung Pemerintah.

Abadi mengungkapkan bahwa Presiden sudah menyetujui hal ini, baik dalam rapat paripurna maupun ratas lainnya yang membahas hal ini, namun realisasinya terbentur pada anggaran yang ada di APBN.

"Jadi kalau bisa dilaksanakan, maka akan sangat membantu dalam pencapaian target 23 persen. Namun perlu diingat, bahwa energi surya ini adalah intermiten, jadi tidak bisa dipakai backbone sebagai energi PLN," jelas dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tak Mustahil Tercapai

Pertama di Eropa, Begini Penampakan PLTS Mengapung
Perbesar
Panel surya fotovoltaik mengapung di kompleks pembangkit listrik O'Mega1 di Piolenc, Prancis selatan (30/7/2019). Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mengapung pertama di Eropa ini akan beroperasi pada September 2019. (AFP Photo/Gerard Julien)

Selain itu, Abadi menyebutkan pemanfaatan dan pengembangan energi baseload, seperti sember energi panas bumi milik Indonesia yang cukup besar mencapai 23 GW, dengan proven resource sekitar 89 GW.

"Jadi apabila ini dikembangkan semuanya, maka ini akan sangat membantu terutama nanti pada daop daerah timur, dimana saat ini masih pakai PLTD, itu bisa juga diganti dengan tenaga EBT yang baru," kata dia.

Sehingga, sambung Abadi, capaian target 23 persen tidak mustahil tercapai. Namun juga dengan penyesuaian target energi primer yang bukan lagi 400 MTOE, melainkan pada kirsaran 300 MTOE atau 280 MTOE, sehingga pebangkitnaya juga akan mengalami oengurangan.

"Tapi yang perlu disepakati bahwa kita mesti merubah total energi primer kita, bukan lagi 400 MTOE karena perkembangan dari pertumbuhan ekonomi kita sudah turun drastis di bawah 5 persen," tutur Abadi.

Dengan adanya Covid-19 ini, Abadi mengatakan bahwa pembangkit di Jawa mulai kekurangan beban, akibat banyak industri yang tidak beroperasi. Hal ini menjadi perhatian untuk mempertahankan sustainable di tengah merosotnya permintaan (demand).

"Jadi 23 persen harus bisa dicapai asal kita semangat dan kita tidak boleh patah arang," tutupnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓