Menunggu Data Cadangan Devisa, Rupiah Menguat ke 14.555 per Dolar AS

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 07 Agu 2020, 10:50 WIB
Diperbarui 07 Agu 2020, 11:42 WIB
FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Rupiah secara point to point pada triwulan II 2020 mengalami apresiasi 14,42 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terjadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Jumat ini. Pelaku pasar mengantisipasi data cadangan devisa.

Mengutip Bloomberg, Jumat (7/8/2020), rupiah dibuka di angka 14.555 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.585 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.555 per dolar AS hingga 14.637 per dolar AS. Jika dihitungd ari awal tahun, rupiah telah melemah 5,56 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.647 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.587 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat akhir pekan ini, diprediksi menguat sebagai antisipasi rilis data cadangan devisa Juli 2020.

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pada akhir pekan ini banyak sentimen yang memengaruhi rupiah baik dari global maupun domestik.

 

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

2 dari 3 halaman

Prediksi Harga

FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Perbesar
Tumpukan mata uang Rupiah, Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

"Dari global memang dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS sebagai dampak dari memburuknya pandemi di AS dan rencana stimulus lanjutan yang sedang dinegosiasikan antara US law makers dengan Pemerintahan Trump," ujar Rully.

Menurut Rully, kemungkinan dalam jangka panjang dolar AS memang akan terus melemah ditambah lagi dengan kebijakan akomodatif dari bank sentral AS The Fed.

Sementara itu, terkait hubungan AS-China, pasar dinilai sudah terbiasa dengan naik turunnya tensi dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu. Pasar cenderung lebih mencermati stimulus baik dari pemerintah AS maupun The Fed.

"Sementara dari dalam negeri, pasar menunggu data cadangan devisa yang kemungkinan akan membaik," kata Rully.

Rully memperkirakan rupiah berpotensi bergerak menguat di kisaran 14.530 per dolar AS hingga 14.635 per dolar AS.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓