Orang Sering Salah Paham Soal Orang Kaya, Miliarder Ini Curhat Pengalamannya

Oleh Siska Amelie F Deil pada 26 Jul 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 26 Jul 2020, 21:00 WIB
Ilustrasi miliarder (iStock)
Perbesar
Ilustrasi miliarder (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Pengusaha miliarder sekaligus pemilik Dallas Mavericks Mark cuban menjadi miliarder saat dia dan para rekannya menjual Broadcast.com pada Yahoo senilai USD 5,7 miliar dalam bentuk saham pada 1999. Kala itu usianya berusia 40 tahun.

Kini di usianya yang ke-61, total kekayannya mencapai sekitar USD 4,3 miliar. Namun menurutnya, banyak orang yang salah paham memandang orang kaya seperti dirinya yang kala itu baru menjadi miliarder.

Menurut pengalaman pribadinya, kesalahpahaman terbesar tentang menjadi dan bertahan sebagai orang super kaya adalah uang secara otomatis mengubah Anda secara drastis.

Mark menegaskan, bukan itu yang sebenarnya terjadi. "Semua orang berpikir, uang mengubah Anda. Dan memang itu bisa saja, tapi itu tidak perlu terjadi," tutur Cuban seperti dilansir dari CNBC, Minggu (26/7/2020).

Sebelum Cuban memiliki kekayaan seperti sekarang, dia mengalami kebangkrutan total saat baru berusia 20-an tahun.

Dia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk membuka rekening bank dan berbagi kamar dengan lima pria lainnya lantaran tidak bisa membayar uang sewa kamar sendiri. Tapi dia masih merasa bahagia.

"Bahkan jika saat itu saya meninggal, tertidur selamanya di lantai, saya masih merasa bahagia, bermain dengan teman-teman saya. Dan mereka masih sosok teman yang sama sampai sekarang," kisahnya.

Menemukan cara berteman dan berhubungan baik setelah kaya memang ternyata membutuhkan waktu. Bagian tersulit adalah membangun hubungan dengan teman-teman lama saat dirinya baru menjadi miliarder.

"Itu karena mereka tidak yakin, apakah saya masih menjadi orang yang sama, dan bingung bagaimana menghadapi seorang miliarder. Apakah mereka yang harus menghubungi saya duluan atau sebaliknya. Itu membutuhkan waktu, tapi teman sejati akan tetap jadi teman sejati," jelasnya.

Cuban mengakui, memiliki banyak uang tentu saja membuat Anda sedikit ingin memiliki perubahan. Uang memberinya kedamaian pikiran dan fleksibilitas.

"Jelas saja saya beruntung tak perlu khawatir dengan berbagai tagihan, tak perlu khawatir listrik mati karena tak mampu membayar, dan berbagai hal lainnya. Saya tak perlu cemas soal uang dan bisa mengatur jadwal sendiri," terangnya.

Lebih dari itu, ia mengaku bisa meningkatkan gaya hidupnya. Tak perlu seberapa besar, memiliki banyak uang dibandingkan saat bangkrut memberikan keleluasaan untuk membeli apapun.

"Tapi menjadi kaya tak perlu mengubah Anda secara drastis, itulah yang seringkali menjadi salah paham," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Cerita Bos JPMorgan yang Sukses Justru Usai Dipecat Teman Sendiri

banner infografis
Perbesar
Ilustrasi Miliarder (Liputan6.com/Deisy)

Bagaimana perasaan Anda jika dipecat oleh rekan yang sudah bekerjasama selama 15 tahun dengan?. Tentu sakit sekali bukan?.

Namun CEO JPMorgan Jamie Dimon tak ambil pusing dengan pemecatan dirinya, karena dia tetap yakin dirinya sangat berharga.

"Meski terkejut dan kehilangan pekerjaan, saya merasa baik-baik saja. Karena saya tahu, itu hanya akan berdampak pada pendapatan saya, dan sama sekali tidak mengganggu keyakinan saya tentang betapa berharganya diri saya," tutur Dimon seperti dilansir dari CNBC, Kamis (23/7/2020).

Pada 1998, Jamie Dimon dipecat oleh mentornya sendiri, mantan CEO Citigroup Sandy Weil. Itu terjadi setelah keduanya bekerjasama selama 15 tahun. Kala itu, Dimon menjabat sebagai presiden dan Chief Operator Travelers, sebuah perusahaan asuransi.

"Awalnya semua berjalan hebat, kamu mulai sebagai perusahaan kecil dan berhasil dengan sangat baik. Lantai kami melakukan merger dengan Citicorp," kenangnya.

Lewat penggabungan dua perusahaan itu, Dimon menjadi presiden di Citigroup. Tapi tak lama setelah itu, Weill meminta Dimon untuk mengundurkan diri. Pada 2010, Weill mengkonfirmasi bahwa Dimon ingin menjadi CEO saat itu, dan Weill belum siap untuk pensiun.

"Saat dipecat dari Citi, saya tentu sangat terkejut. Itu seharusnya tidak terjadi, karena sebenarnya banyak sekali tanda-tanda sebelumnya, tapi aku melewatkan itu semua," tuturnya.

Namun meski kehilangan pekerjaannya itu, dia mengaku baik-baik saja karena tetap menyadari apa yang berharga pada dirinya. Dan itu sama sekali tidak terusik oleh pemecatan yang terjadi padanya.

Dimon yang terbiasa bekerja 80 jam per minggu kembali ke titik nol. Dia menggunakan waktu jatuhnya tersebut untuk mencari tahu, jenis pimpinan apa yang ingin dia tunjukkan di jabatan berikutnya.

Dia lantas membaca banyak riwayat hidup pimpinan nasional dan melepas banyak tekanan.

"Orang berkata, Anda punya tingkatan hidup, jadi saya menerima semua panggilan. Pekerjaan apapun adaah tetap pekerjaan. Saya pernah merasa lelah juga," jelas dia.

Setelah melalui beberapa wawancara, termasuk di Home Depot dan Amazon, pada 2000, Dimon menjadi CEO Bank One dan merasa bahagia menjadi bagian dari perkembangan bank tersebut.

Saat itu Bank One menderita kerugian hingga USD 511 juta. Namun setelah Dimon menjadi CEO, hanya dalam tiga tahun, Bank One melaporkan rekor keuntungan baru seniai USD 3,5 miliar.

Pada 2004, JPMorgan Chase membeli Bank One dan pada 2005, Dimon pun sukses ditunjuk menjadi CEo JPMorgan Chase. Hingga menurut laporan Forbes, Dimon bahkan mencatatkan kekayaan senilai USD 1,3 miliar.

"Saya tak tahu apa artinya menjadi CEO. Saya rasa, itu seharusnya tidak menjadi tujuan hidup seseorang. Itu bukan kesempurnaan. Manusia tidak sempurna. Perusahaan juga tidak sempurna. Tapi kompetisi di dalamnya yang membuat saya menyala. Saya sangat merindukan tantangan intelektual," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓