Gara-Gara Corona, Miliarder Ini Kangen Naik Jet Pribadi

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 18 Jul 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 18 Jul 2020, 21:00 WIB
Ilustrasi jet pribadi.
Perbesar
Ilustrasi jet pribadi. (dok. pixel2013/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Liputan6.com, Jakarta - Wabah pandemi Covid-19 berkepanjangan telah membuat banyak orang hilang rasa sabar untuk menunggu. Tak terkecuali para miliarder terkaya dunia, yang banyak pergerakannya harus tertahan saat ini.

Seperti diungkapkan salah seorang investor miliarder Wall Street, yang mengeluh karena dipaksa untuk mempelajari aplikasi Zoom selama masa pandemi.

Seorang tokoh besar yang tak mau disebutkan namanya ini terdaftar sebagai salah seorang miliarder terkaya Amerika Serikat (AS) versi Bloomberg. Dia berbicara kekhawatiran terbesarnya selama wabah virus corona, yakni tak bisa ke mana-mana dengan jet pribadinya.

"Sekarang kalau Anda ada di bus dan mulai bersin, semua orang bakal kesal," keluhnya saat berbincang dengan Bloomberg, seperti dikutip New York Post, Sabtu (18/7/2020). Dia kemudian meralat bahwa dirinya tidak naik bus.

Tokoh miliarder anonim ini kemudian bercerita, dirinya bahkan harus menyetir sendiri untuk ke toko dari kampung halamannya yang ada di pinggiran New York. Itu dilakukannya lantaran tak ada staf yang mendampinginya selama pandemi.

 

2 dari 3 halaman

Tak Didampingi Staf

Ilustrasi working from home, wfh, bekerja dari rumah.
Perbesar
Ilustrasi working from home, wfh, bekerja dari rumah. Kredit: pinterastudio via Pixabay.

Dia juga meratapi nasib harus bekerja dari jarak jauh tanpa didampingi 5 orang stafnya. Meski kemudian pada akhirnya ia mulai terbiasa menggunakan perangkat lunak seperti Zoom.

Segala pernyataannya ini berbanding terbalik dengan apa yang pernah ia lontarkan di masa awal pandemi. Dia sempat merasa tak khawatir dengan adanya virus corona.

"Saya bisa melakukan tes. Saya punya koneksi ke dewan rumah sakit terbaik. Saya hanya akan meminta bantuan untuk orang-orang terdekat," ungkap dia beberapa waktu lalu.

Tapi ucapannya berubah sejak 22 Mei 2020, ketika angka pengangguran mencapai titik tertinggi di Amerika Serikat sejak era Great Depression pada 1929-1939.

"Semuanya jadi lebih besar. Saya telah mengucapkan kata yang salah," ujar dia.

Namun, ia juga tak mau meratapi wabah yang telah merumahkan 30 persen tenaga kerja di Negeri Paman Sam. Di sisi lain, ia menyoroti ada sejumlah orang yang bisa memanfaatkan situasi pandemi untuk kemudian memperkaya dirinya.

"Apakah perang itu adil? Apakah orang-orang mati karena perang? Ya. Kemudian ada virus yang bersifat menular. Lalu alam berkata, saya mau memilihmu. Apakah itu adil? Apakah itu tepat? Tidak, tapi itulah kehidupan," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓