Pemerintah Diminta Tak Hanya Tarik Investor, tapi Juga Ciptakan Lapangan Kerja

Oleh Liputan6.com pada 17 Jul 2020, 19:19 WIB
Diperbarui 17 Jul 2020, 19:19 WIB
Prediksi BI Soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun Depan
Perbesar
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Neraca Perdagangan Indonesia kerap mencatatkan surplus tiap bulannya. Prestasi menariknya Indonesia mampu mendatangkan investasi baru secara berkelanjutan.

Namun, yang perlu dikhawatirkan investasi yang masuk tidak digunakan untuk membuka pabrik baru di dalam negeri. Sehingga tidak ada penyerapan tenaga kerja.

"Dikhawatirkan investasi di dalam tidak mengembangkan usahanya, tidak membuat pabrik baru sehingga hasil usahanya dikirim keluar," kata Kepala Kajian Iklim Usaha, LPEM UI Salemba, Revindo dalam Talk Show Corona bertajuk 'Prospek dan Tantangan Investasi di Era Adaptasi', di Graha BNPB, Jakarta Timur, Jumat (17/7/2020).

Untuk itu pemerintah seharusnya bukan hanya menarik investor datang ke Indonesia. Tetapi juga memastikan perusahaan asing membuka pabrik dan menyerap tenaga kerja.

"Ini harus dicatat untuk jadi pencapaian," kata Revi sapaannya.

Lebih lanjut Revi menilai negara harus dalam posisi netral. Tidak mendukung perusahaan besar atau perusahaan kecil.

Di perusahaan besar kata Revi pola investasi di dunia sudah mulai berubah. Sebelumnya perusahaan banyak membuka pabrik di berbagai negara karena ongkos transportasi terbilang murah.

 

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Target Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

 

Saat ini, kondisi berbalik. Pandemi Covid-19 membuat mobilitas barang terhambat. Pengusaha juga berpikir untuk memusatkan pabriknya di satu negara yang sama.

Peluang inilah yang harus ditangkap pemerintah. Menarik minat investor untuk memusatkan produksinya di Indonesia.

"Mudah-mudahan di Indonesia karena di Indonesia penduduk banyak, sumber daya alam besar. Hanya perlu didukung SDM dan teknologi saja," kata Revi.

Sementara itu bagi perusahaan kecil Revi melihat selama pandemi ini masyarakat mulai beralih melakukan transaksi jual beli secara online. Sebagian UKM besar domestik terpaksa investasi di sarana pemasaran online. Baik itu terkait layanan internet atau aplikasinya.

Data yang dimiliki Revi menunjukkan pemasangan baru internet di rumah meningkat 30-40 persen dari periode sebelumnya. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM juga menunjukkan sudah ada 8 juta pelaku UMKM yang bertransformasi ke platform digital.

Hal ini menunjukkan, masyarakat juga menunjukkan optimismenya di masa pandemi ini. Hanya saja, pemerintah juga harus mengakomodir sarana dan prasarana yang diperlukan seperti layanan internet.

Jika arah pemerintah mengajak masyarakat go digital, maka infrastrukturnya juga harus disiapkan. Saat ini dari 75 ribu desa yang ada di seluruh Indonesia, masih ada 12 ribu desa yang belum terkoneksi internet.

"Jadi harus segera diberi akses atau mungkin ada beberapa ribu lain ada akses tapi kurang baik," pungkasnya.

Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓