Produksi Minyak Blok Cepu Bakal Ditingkatkan Jadi 235 Ribu Bph

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 16 Jul 2020, 18:10 WIB
Diperbarui 16 Jul 2020, 18:10 WIB
Tim Penanganan Keadaan Darurat PT Pertamina EP Cepu Field langsung melakukan upaya stabilisasi seluruh fasilitas di CPP Gundih. Dok PEP
Perbesar
Tim Penanganan Keadaan Darurat PT Pertamina EP Cepu Field langsung melakukan upaya stabilisasi seluruh fasilitas di CPP Gundih. Dok PEP

Liputan6.com, Jakarta - Produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip Blok Cepu akan dioptimalkan. Sebelumnya produksi meningkat menjadi 220 ribu barel per hari (bph) pada awal 2020, kini diperkirakan dapat naik menjadi 235 ribu bph.

Plt Kadiv Program dan Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Susana Kurniasih mengatakan, SKK Migas sedang berkoordinasi dengan Exxon Mobile Cepu Limited (EMCL) agar peningkatan produksi minyak sebesar 235 ribu bopd dapat direalisasi. Namun, untuk merealisasikannya harus mendapat izin.

"Semoga usaha ini dapat dilakukan segera, mengingat semua izin yang dibutuhkan untuk melakukan peningkatan produksi sudah diperoleh,” kata Susana, di Jakarta, Kamis(16/7/2020).

Susana mengungkapkan, izin peningkatan produksi yang dimaksud adalah izin Analisis dampak lingkungan (Amdal) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Selain itu juga persetujuan layak operasi (PLO) instalasi EMCL untuk mendukung peningkatan produksi yang dikeluarkan oleh Ditjen Migas.

Potensi optimasi produksi di Lapangan Banyu Urip, telah divalidasi dari kegiatan High Rate Test yang dilakukan pada 2019. Dimana berdasarkan test tersebut fasilitas mampu berproduksi secara aman di level 235 ribu bph.

Optimasi produksi minyak di atas 220 ribu bph belum dapat dilaksanakan pada 2019 karena Amdal yang ada pada saat itu hanya membolehkan produksi maksimal sebesar 220 ribu bph.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Revisi Amdal

Mengintip Kilang Minyak Sei Pakning Milik Pertamina
Perbesar
Manager Production RU II Pertamina Sei Pakning Nirwansyah dan Health, Security & Safety Environment (HSSE) Officer Azhari meninjau area kilang RU II Sei Pakning, Bengkalis, Riau, Selasa (17/10). (Liputan6.com/Yulia)

Pada 2020 ini Revisi Amdal telah diberikan oleh KLHK serta PLO juga telah disetujui oleh Ditjen Migas untuk berproduksi di atas 220 ribu bpj hingga 235 ribu bph.

Mengacu pada hal-hal tersebut, secara legalitas peningkatan produksi di atas 220 ribu bpj dapat dilakukan sesegera mungkin. Optimasi produksi tersebut tentunya tetap memperhatikan aspek-aspek terkait seperti aspek cadangan subsurface yang akan tetap memastikan good reservoir management dari Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris terjaga serta aspek terkait keamanan, kehandalan operasi produksi dan dampak lingkungan yang timbul tidak melebihi ketentuan yang diizinkan.

"Diharapkan dengan adanya tambahan produksi dari EMCL dapat membantu pencapaian target produksi migas nasional," tuturnya

Pencapaian target produksi migas 2020 menjadi tantangan tersendiri, terutama dengan adanya pandemi virus corona baru (Covid-19) serta kondisi rendahnya Harga minyak dunia.

Banyak program yang sebelumnya sudah direncanakan oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS), akhirnya harus disesuaikan karena pemberlakuan protokol Covid yang membatasi pergerakan barang dan manusia.

Hasilnya beberapa program seperti bor, workover, well service serta proyek yang terhambat, termasuk kegiatan operasional yang perlu penyesuaian dengan protokol yang diberlakukan pada masa pandemi ini.

“Di tengah tantangan yang dihadapi saat ini, EMCL merupakan salah satu KKKS yang pencapaian produksinya hingga semester I tahun 2020 memenuhi dan bahkan melebihi target APBN tahun 2020 yang telah ditetapkan untuk EMCL dengan menjaga level produksi optimal di 220 ribu bopd. Namun demikian kami berusaha untuk memaksimalkan produksi dari wilayah kerja tersebut,” tutup Susana.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓