Produksi Pertanian di Pati Melimpah karena Minim Alih Fungsi Lahan

Oleh stella maris pada 16 Jul 2020, 13:12 WIB
Diperbarui 16 Jul 2020, 14:01 WIB
Musim Kemarau, Harga Gabah Petani Alami Kenaikan
Perbesar
Petani memisahkan bulir padi dari tangkainya saat panen di sawah yang terletak di belakang PLTU Labuan, Pandeglang, Banten, Minggu (4/8/2019). Kurangnya pasokan beras dari petani akibat musim kemarau menyebabkan harga gabah naik. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta Produktivitas pertanian di Pati melimpah karena Kabupaten Pati mampu menjaga lahan pertaniannya dari alih fungsi lahan. Hal itu mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pertanian. 

Berdasarkan kajian Lingkungan Hidup Strategis tentang rencana tata ruang 2010-2030, Kabupaten Pati diketahui memiliki luas lahan sekitar 150 ribu hektare. Rinciannya, 59.299 hektare berupa lahan sawah, 60.453 hektare lahan pertanian non-sawah, dan 30.755 lahan bukan pertanian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan pertanian di Pati sangat baik. Untuk itu Kementan mengajak seluruh pihak terkait untuk bersama mencegah alih fungsi lahan. Sebab, menjaga eksisting lahan pertanian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia secara mandiri.

"Boleh ada perumahan, boleh ada hotel, tapi tidak boleh merusak lahan pertanian yang ada," ujar Mentan Syahrul, Kamis (16/7).

Sementara Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, mengatakan Pemda dapat berperan aktif dalam mencegah alih fungsi lahan lantaran telah ada regulasi yang mengaturnya. Yakni Undang-undang Nomor 41 tahun 2009 tentang Penerapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) di daerah.

"Kami berharap aturan tersebut juga membuat pemerintah daerah bukan hanya bisa mencegah alih fungsi lahan. Tetapi lebih dari itu, seperti mampu memaksimalkan lahan pertanian untuk meningkatkan produktivitas seperti yang dilakukan Pati," katanya.

Wakil Bupati Pati, Syaiful Arifin, mengatakan setiap tahun daerahnya mampu memproduksi 350 ribu ton padi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

"Kami di Pati sudah (memproduksi) 350 ribu ton padi setiap tahun. Sedangkan kebutuhan pangan di Pati 150 ribu ton setiap tahun. Saya sangat mendorong untuk bagaimana pengembangan di pertanian, peternakan, perikanan. Sangat mendorong sekali," kata Syaiful Arifin, Pati, Jawa Tengah.

Ditambahkan Syaiful Arifin, setiap tahun produksi pangan di Pati selalu melebihi target. Sebab, Pati memiliki luas lahan hijau yang mampu menopang produksi pertanian dengan maksimal.

Syaiful Arifin menambahkan, Kabupaten Pati memiliki 1,3 juta penduduk yang harus ditingkatkan kebutuhan ekonomi mereka. Oleh karena itu, selain tetap menggenjot sektor produksi pertanian, Kabupaten Pati berkeinginan memacu pertumbuhan di sektor industri.

 

(*)