Dihantam Corona, Industri Pariwisata di Bali Masih Lesu

Oleh Liputan6.com pada 14 Jul 2020, 17:40 WIB
Diperbarui 14 Jul 2020, 17:40 WIB
Capella Ubud Bali Hotel terbak di Asia
Perbesar
Sabet posisi pertama sebagai Hotel Nomor 1 di Asia, Capella Hotels dan Resort juga sebagai Group Hotel nomor 2 di dunia.

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Kadin Bidang Pariwisata, Kosmian Pudjiadi mengatakan industri pariwisata pada kuartalĀ III-2020 sudah ada peningkatan. Peningkatan kunjungan lokal lewat jalur darat seiring dengan relaksasi kebijakan PSBB. Namun sayangnya industri pariwisata di Bali belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

"Sudah ada peningkatan kunjungan lokal via darat," kata Kosmian dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) bersama Komisi X, DPR-RI secara virtual, Jakarta, Selasa (14/7).

Okupansi di industri pariwisata sudah meningkat menjadi sekitar 10 persen sampai 15 persen. Namun, khusus pariwisata di Bali, masih belum menunjukkan peningkatan.

Sebab, bandar udara di Bali masih tertutup untuk wisatawan mancanegara. Apalagi turis mancanegara juga belum mendapatkan izin untuk keluar dari negara asalnya.

"Airport masih tertutup untuk asing dan asing juga masih lockdown, maka okupansi masih hampir nol persen," tutur Kosmian.

Kosmian mengatakan pengusaha pariwisata yang membuka usahanya secara sukarela pada masa pendemi juga tetap mengalami kerugian. Sebab biaya untuk menerapkan protokol kesehatan ternyata sangat mahal.

2 dari 3 halaman

Pembatasan Kapasitas

Pariwisata Labuan Bajo
Perbesar
Foto : Salah satu lokasi wisata milik WNA di Labuan Bajo, NTT (Liputan6.com/Ola Keda)

Pembatasan kapasitas sampai 50 persen dan alat pencegahan penularan virus membuat biaya mahal. Sehingga berdampak pada penurunan pendapatan.

"Semua itu membuat biaya menjadi mahal yang berdampak atas penurunan profit margin," kata Kosmian.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Liputan6.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓