Industri Pariwisata Diprediksi Baru Pulih di 2023

Oleh Liputan6.com pada 14 Jul 2020, 16:30 WIB
Diperbarui 14 Jul 2020, 16:34 WIB
Melihat Para Turis Berlibur di Pantai Kuta Bali
Perbesar
Sejumlah turis menikmati pantai Kuta di pulau pariwisata Indonesia di Bali (4/1). Pantai Kuta terkenal memiliki ombak yang bagus untuk olahraga selancar, terutama bagi peselancar pemula. (AFP Photo/Sony Tunbelaka)

Liputan6.com, Jakarta - Melihat penanganan Covid-19 yang ada di Indonesia, Wakil Ketua Kadin Bidang Pariwisata, Kosmian Pudjiadi memperkirakan puncak penyebaran virus berakhir pada triwulan IV-2020. Sebab, dia melihat pengendalian yang dilakukan pemerintah kurang efektif.

"First wave mungkin baru mencapai puncaknya pada akhir tahun 2020," kata Kosmian dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) bersama Komisi X, DPR-RI secara virtual, Jakarta, Selasa (14/7).

Akibatnya, lanjut Kosmian, industri pariwisata baru akan mulai memasuki masa pemulihan pada tahun 2023. Yakni 1,5 tahun setelah ditemukannya vaksin jika merujuk data World Tourism Organization (WTO).

Kosmian menjelaskan pemulihan industri pariwisata di Indonesia sangat bergantung pada penurunan jumlah kasus baru orang terjangkit virus corona. Selain itu, pencabutan kebijakan PSBB di suatu daerah juga ikut memengaruhi.

Begitu juga dengan negara lain. Industri pariwisata sangat tergantung pada kebijakan negara lain yang mengizinkan warganya berkunjung ke Indonesia.

"Semua bergantung pada kapan negara lain berani mengizinkan warganya berkunjung ke Indonesia, terutama kapan penggunaan vaksin virus" kata Kosmian.

2 dari 3 halaman

Bergantung Penanggulangan Corona

Tempat Wisata di Kendal
Perbesar
Curug Sewu (Sumber: Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Kendal)

Pemulihan di sektor pariwisata juga bergantung pada tata cara penanggulangan penyebaran Covid-19. Saat ini,cara yang digunakan yaitu mengandalkan rapid tes biasa untuk melakukan screening, lalu menggunakan PCR untuk memastikan

Namun hal ini tidak akan bisa memastikan seseorang bisa berlibur tanpa bayang-bayang virus corona. Dua alat tes tersebut belum bisa meyakinkan seseorang berlibur dengan aman.

Selain itu, pemulihan di sektor ini juga bergantung pada stimulus ekonomi terhadap suplai. Lalu stimulus ekonomi terhadap instansi pemerintah, perusahaan swasta dan masyarakat untuk bisa berkunjung dan berkegiatan di tempat wisata.

Termasuk stimulus ekonomi terhadap industri pendukung pariwisata. Terutama pada jasa transportasi. "Kalau tiket pesawat jadi mahal, dampaknya akan besar," kata Kosmian mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓