Wall Street Melonjak Didorong Oleh Saham Boeing

Oleh Arthur Gideon pada 30 Jun 2020, 06:15 WIB
Diperbarui 30 Jun 2020, 06:15 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street melonjak pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi Waktu Jakarta). Kenaikan bursa saham di Amerika Serikat (AS) ini mengabaikan lonjakan kasus virus Corona baru.

Mengutip CNBC, Selasa (30/6/2020), Dow Jones Industrial Average ditutup naik 580,25 poin atau 2,3 persen menjadi 25.595,80. Angka ini merupakan level tertinggi Dow Jones sejak 5 Juni, ketika melonjak lebih dari 3 persen.

Sedangkan indeks S&P 500 melonjak 1,5 persen menjadi 3.053,24. Sementara Nasdaq Composite naik 1,2 persen dan mengakhiri hari di 9.874,15.

Rata-rata kenaikan indeks utama di Wall Street ini terjadi hanya beberapa menit jelang penutupan.

Pendorong kenaikan indeks saham Dow Jones di Wall Street adalah saham Boeing ang naik 14,4 persen didorong penerbangan sertifikasi untuk Boeing 737 Max yang dimulai pada Senin.

Tes ini dilihat oleh investor sebagai langkah strategis untuk menangani krisis terburuk dalam sejarah Boeing, yang dimulai pada Maret 2019 setelah dua kecelakaan yang menewaskan 346 orang.

Selain itu, saham Apple juga di antara kontributor terbesar kenaikan Dow Jones dengan naik 2,3 persen.

 

2 dari 2 halaman

Facebook

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Saham Facebook ditutup 2,1 persen lebih tinggi dan mampu pulih dari penurunan sebelumnya. Raksasa media sosial itu pertama kali berada di bawah tekanan setelah lebih banyak perusahaan mengatakan mereka akan menghentikan iklan pada platformnya.

Sejak Jumat lalu Starbucks, Coca-Cola, dan Guinness mengumumkan akan menghentikan iklan di media sosial.

Kenaikan Wall Street ini mengabaikan data terbaru virus Corona. Menurut laporan Johns Hopkins University lebih dari 2,5 juta kasus baru Covid-19 dikonfirmasi terjadi AS, bersama dengan lebih dari 125.000 kematian.

Secara global, lebih dari 10 juta kasus telah dilaporkan.

Lanjutkan Membaca ↓