Tenang, Bos Bulog Jamin Stok Beras Nasional Aman Hingga Akhir Tahun

Oleh Nurmayanti pada 25 Jun 2020, 12:36 WIB
Diperbarui 25 Jun 2020, 12:38 WIB
Stok Beras Hingga Pertengahan Tahun Dipastikan Aman
Perbesar
Pekerja berstirahat di tumpukan karung beras Bulog di Kelapa Gading, Jakarta. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso atau Buwas memastikan mampu memenuhi kebutuhan pangan beras hingga akhir Desember 2020. BUMN ini menyiapkan stok beras hingga 1,4 juta ton, agar bisa selalu tersedia di masyarakat.

"Jadi, saya yakinkan bahwa beras kita ini cukup untuk kegiatan sampai bulan Desember tahun ini. Sampai hari ini kita masih punya (stok beras) 1,4 juta ton," kata Buwas saat menggelar rapat bersama Komisi IV DPR RI, di Komplek Parlemen, Kamis (25/6).

Saat ini stok beras yang dikelola Bulog mencapai 1,4 juta ton. Sementara stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang harus dikelola berkisar 1 sampai 1,5 juta ton di tahun ini.

Meski begitu, pihaknya terus memaksimalkan penyerapan produksi gabah petani di sejumlah daerah. Terutama pada panen musim pertama di bulan April sampai Juni tahun ini.

Bahkan, Bulog juga berkomitmen untuk menyerap gabah pada panen musim kedua pada September sampai November. Cara ini untuk mengamankan stok beras nasional hingga 2021.

Dia pun mengaku terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk memetakan daerah yang tengah dan masih panen di tahun ini. Menyusul perbedaan waktu panen di sejumlah provinsi.

"Seperti di Lampung baru mulai panen. Kemudian daerah lainnya kita maksimalkan, untuk wilayah DKI yang kurang (beras)," jelas dia.

 

2 dari 3 halaman

Pemerintah Diminta Waspadai Dampak Iklim terhadap Stok Beras

Stok Beras Hingga Pertengahan Tahun Dipastikan Aman
Perbesar
Karung Beras Bulog terlihat di Gudang Bulog kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (27/2/2020). Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2020 Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik atau Perum Bulog siap mengamankan pasokan beras di seluruh wilayah Indonesia mencapai 1,7 juta ton. (merdeka.com/Imam Buhori)

Pemerintah dinilai perlu mengantisipasi dampak perubahan iklim pada ketersediaan stok beras dan komoditas pangan lainnya di berbagai daerah. Pendistribusian pun harus dikelola dengan baik ke seluruh wilayah Indonesia.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengingatkan bahwa pada kemarau ekstrim tahun 2019 bahkan berdampak pada menurunnya produksi beras sebesar 7,76 persen.

"Kondisi iklim yang tak menentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh pada penyerapan beras pada musim panen kedua tahun 2020, yang diprediksi oleh Bulog akan berlangsung sekitar September-November nanti. Jika melihat dari harga beras melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis nasional, harga beras cenderung berada di kisaran Rp 11,900 per kilogram atau stabil tinggi sejak April 2020," jelas dia dalam keterangannya, Kamis (25/6/2020).

Menurut dia, untuk menjaga kestabilan harga beras di semua wilayah di Indonesia, pendistribusian beras oleh Bulog harus dikelola dengan baik agar mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Pendistribusian yang merata bertujuan untuk menghindari terjadinya ketimpangan harga antara harga beras di wilayah yang surplus produksi berasnya dan wilayah yang produksinya mengalami defisit.

Perhitungan pun dikatakan harus dilakukan secara berkala, dengan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi, jangan sampai harga beras nanti terus berada dalam level tinggi atau perlahan naik.

"Karena jika perhitungan menunjukkan perlunya pengadaan beras dalam jumlah yang lebih banyak, mau tidak mau perhitungan untuk impor juga harus dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindari keterlambatan akibat proses panjang impor yang harus dilalui," tegas Galuh.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait