Apa Itu Resesi Ekonomi? Ini Penjelasannya

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 24 Jun 2020, 17:00 WIB
Diperbarui 24 Jun 2020, 17:00 WIB
Target Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia bersiap mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2020 tetap negatif.

Secara skenario, Sri Mulyani mengatakan, pemerintah sebenarnya memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh positif pada kuartal III. Namun pada saat yang sama, ia juga memperkirakan kemungkinan terburuk perekonomian negara anjlok hingga -1,6 persen pada periode tersebut.

"Kami berharap kuartal III dan kuartal IV 2020 ekonomi tumbuh 1,4 persen. Atau kalau dalam negatif bisa minus 1,6 persen. Itu technically bisa resesi kalau kuartal III negatif," ungkap Sri Mulyani beberapa waktu lalu.

Lantas, apa sebenarnya pengertian resesi?

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menerangkan, tolak ukur utama sebuah negara bisa dikatakan sedang mengalami masa resesi yakni ketika tingkat pertumbuhan ekonomi negatif untuk dua kuartal berturut-turut atau lebih.

"Resesi itu pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut. Tidak ada (indikator lain)," kata kepada Liputan6.com, Rabu (24/6/2020).

Senada, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Rahayu Puspasari menjelaskan, definisi technical recession terjadi ketika suatu negara mengalaminya selama dua kuartal atau lebih.

Dalam hal ini, Indonesia akan masuk resesi jika laju perekonomian pada kuartal III 2020 negatif, menyusul pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 yang diperkirakan minus 3,8 persen.

"Resesi dipahami secara umum sebagai suatu perlambatan ekonomi dalam kurun waktu sementara seperti yang diproyeksikan terjadi di 2020 ini mulai dari kuartal I 2020," jelas dia.

2 dari 3 halaman

Berkat Konsumsi Domestik, Indonesia dan China Terhindar dari Resesi

Target Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Gedung bertingkat mendominasi kawasan ibu kota Jakarta pada Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, banyak negara di dunia memasuki zona resesi akibat tak mampu menghadapi pandemi Virus Corona. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Indonesia, India dan China.

"Dari pertumbuhan ekonomi global kita melihat di antara berbagai negara seluruhnya masuk negatif. Hanya beberapa positif. Berdasarkan outlook IMF, Indonesia, China dan India masih positif," ujar Airlangga melalui diskusi online, Jakarta, pada Selasa 16 Juni 2020.

Airlangga mengatakan, ketiga negara ini memiliki pasar domestik yang besar. Sehingga untuk menjaga ekonomi dalam negeri, tidak melulu mengandalkan ekspor yang mudah terpengaruh kondisi global.

"Alasannya karena masing-masing punya daya tahan karena ekonomi tidak tergantung market dunia. Karena masih tergantung domestik market sehingga domestik market menjadi bantalan perekonomian," jelasnya.

Dia menambahkan, negara-negara yang bergantung ekspor mudah goyah sehingga saat ini masuk ke zona merah atau resesi karena permintaan dunia menurun drastis. Untuk Indonesia sendiri, diprediksi masih akan tumbuh positif akibat konsumsi dalam negeri.

"Mereka yang tergantung ekspor itu masuk zona merah. Kalau zona merah negara tersebut masuk resesi. Ke depan dan beberapa prediksi, tahun depan Indonesia masih positif dengan demikian optimisme bisa terbangun," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓