Pemerintah Cetak Sawah Baru Seluas 295 Ribu Hektare di Pinggir Sungai Barito

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 24 Jun 2020, 12:46 WIB
Diperbarui 24 Jun 2020, 12:50 WIB
Musim Kemarau, Harga Gabah Petani Alami Kenaikan
Perbesar
Petani memisahkan bulir padi dari tangkainya saat panen di sawah yang terletak di belakang PLTU Labuan, Pandeglang, Banten, Minggu (4/8/2019). Kurangnya pasokan beras dari petani akibat musim kemarau menyebabkan harga gabah naik. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pemerintah akan fokus mengembangkan kawasan produsen pangan dengan mencetak sawah baru atau food estate di daerah endapan (aluvial) yang berada di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Dia menyampaikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya memutuskan untuk memilih tiga lokasi alternatif kawasan food estate, yakni Sumatera Selatan, Merauke, dan Kalimantan Tengah.

"Kemudian diputuskan untuk dipilih di Kalimantan Tengah di eks lahan gambut. Tapi ini yang tidak ada gambutnya, ini adalah aluvial," kata Basuki saat menggelar rapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (24/6/2020).

Menurut pemaparannya, terdapat sekitar 165 ribu ha lahan aluvial di pinggiran Sungai Barito, dengan potensi wilayahnya sekitar 295.500 ha. Namun yang sudah dicetak sawah dan memiliki jaringan irigasi seluas 165 ribu ha.

Dari 165 ribu ha tersebut, ada sekitar 85.500 ha fungsional yang telah diolah oleh petani setiap tahunnya. Dari 85.500 ha, ada sekitar 57 ribu ha lahan yang sudah dipelihara Kementerian PUPR setiap tahunnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Jaringan Irigasi

Petani mulai memanfaatkan lahan persawahan untuk tanam padi. (Dok Kementan)
Perbesar
Petani mulai memanfaatkan lahan persawahan untuk tanam padi. (Dok Kementan)

Catatan lainnya, Basuki menyoroti beberapa kendala dalam menjadikan Kalteng sebagai food estate, salah satunya seputar kondisi jaringan irigasi yang bermasalah. Pada lahan seluas 57 ribu ha, kondisi irigasi yang baik hanya untuk 28.300 ha, sehingga hasil produksinya cuman sekitar 1,7-2,9 ton per ha saja.

"Tiga hal yang menjadi masalah, satu irigasinya karena airnya tidak mengalir, sehingga zat besinya itu kepermukaan, berwarna merah kekuningan. Kemudian pupuk, karena dia tidak mengalir airnya menggenang jadi pupuknya tidak efektif," paparnya.

"Ketiga sering banjir karena memang daerah rawa, tidak dipelihara airnya meluap," tegas Menteri Basuki.

 

3 dari 3 halaman

Kapuas

Lahan Baku Sawah
Perbesar
Aktivitas petani di persawahan Desa Pasir Kaliki, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/8/2019). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Basuki lantas membandingkannya dengan kondisi lahan di Palingkau, Kabupaten Kapuas, Kalteng yang telah sukses ditanami padi lokal. Dia mengutarakan, jaringan irigasi pada daerah tersebut seluruhnya tergenang, sehingga hasil produksinya bisa mencapai 1,9-2,9 ton per ha.

"Ini tinggal direhabilitasi sedikit dengan pupuk. Dia bisa naik 1 ha, naik 2 ton saja bisa dapat 300 sekian ribu ha dengan harga dan cost yang lebih murah daripada buka baru," pungkas Menteri Basuki.

Lanjutkan Membaca ↓