Soal Rupiah, BI Lebih Percaya Diri Dibanding Pemerintah

Oleh Liputan6.com pada 22 Jun 2020, 16:40 WIB
Diperbarui 22 Jun 2020, 16:40 WIB
Rupiah Menguat di Level Rp14.264 per Dolar AS
Perbesar
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memprediksi posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan menguat di 2021. Dalam hitungannya, rupiah akan berada di kisaran 13.700 per dolar AS hingga 14.300 per dolar AS

Penguatan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi banyak hal terutama karena sentimen dari dalam negeri seperti masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

"Rata-rata nilai tukar rupiah pada 2020 pada kisaran  14.000 per dolar AS sampai 14.600 per dolar AS dan akan menguat di 2021 pada kisaran 13.700 per dolar AS hingga 14.300 per dolar AS," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo di DPR RI, Jakarta, Senin (22/6/2020).

Posisi nilai tukar rupiah pada 2021 yang diperkirakan BI berbeda dengan diasumsikan oleh pemerintah. Di kesempatan sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Idrawati justru merevisi posisi nilai tukar rupiah dalam kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF).

Di mana dari yang sebelumnya 14.500 per dolar AS  hingga 15.500 per dolar AS menjadi 14.900 per dolar AS hingga 15.300 per dolar AS.

"Untuk nilai tukar rupiah, sedikit menguat dari KEM-PPKF yang emmang disusun pada situasi April saat votalitas tinggi. Sekarang kita mengusulkan pada  14.900 per dolar AS- 15.300 per dolar AS," ujar Sri Mulyani.

 

2 dari 3 halaman

Sorotan DPR

Nilai Tukar Rupiah
Perbesar
Aktivitas penukaran uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Nilai tukar Rupiah pada Kamis (19/3) sore ini bergerak melemah menjadi 15.912 per dolar Amerika Serikat, menyentuh level terlemah sejak krisis 1998. (merdeka.com/Imam Buhori)

Perbedaan ini lantas menjadi sorotan bagi anggota Komisi IX DPR RI. Politisi Frkasi Golkar, Mukhamad Misbakhun menyayangkan perbedaan asumsi yang dilakukan oleh pemerintah. Menurutnya ini justru mendandakan kurangnya koordinasi antara pemerintah dan juga BI.

"Dua angka perbedaan (asumsi Bank Indonesia dan Pemerintah]) yang mencolok ini, dan ini menjadi dua hal kutub yang berbeda. Tolong diambil kebijaksanaan, belajar dari 2018 dan 2019 yang sangat kontrakdiktif, satu memberikan windfall dan satu memberikan tekanan kontraksi yang kuat saat penerimaan negara 2019," kata Misbakhun.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓