Pemerintah Akui Kapasitas Rapid Test Indonesia Masih Rendah

Oleh Liputan6.com pada 22 Jun 2020, 14:40 WIB
Diperbarui 22 Jun 2020, 14:40 WIB
Suharso Monoarfa
Perbesar
Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengakui bahwa sistem pengendalian kesehatan nasional belum memadai. Hal itu tercermin jika dilihat dari jumlah pemeriksaan Covid-19 atau rapid tes kepada penduduk Indonesia masih sangat rendah.

"Seharusnya penduduk di tes kita hari ini jauh ketinggalan harusnya kita saat ini bisa mencapai 30.000 per hari. Orang di tes kita per hari ini 11.000 per hari, Presiden bilang paling enggak sampai 20.000 per hari," ujar Suharso saat melakukan rapat kerja dengan Komis XI DPR RI, di Jakarta, Senin (22/6/2020).

Dia mengatakan, seharusnya Indonesia mampu memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 hingga mencapai 27.000 per hari. Di sisi lain, terjadi kemunduran waktu untuk seseorang bisa mendapatkan hasil tesnya.

"Ini yang mengakibatkan data-data kita, seperti yang terjadi di Jawa Timur, itu mengejutkan kita," ujar Suharso.

Dia menambahkan, selain sistem kesehatan nasional ketidaksiapan juga terjadi dalam sistem perlindungan sosial di Indonesia.

 

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Presiden Jokowi meninjau integrated digital work (IDW) di Kantor Kementerian PPN/Bappenas
Perbesar
Presiden Joko Widodo atau Jokowi meninjau integrated digital work (IDW) di Kantor Kementerian PPN/Bappenas Jakarta. (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Oleh karenanya dia mendorong agar revormas terus dilakukan untuk sistem perlindungan sosial, penanggulangan bencana, hingga ketahanan pangan.

"Karena Covid-19 ini itu sangat diingatkan kalau ada sesuatu yang kita tidak siap atau belum siap atau tidak semputna (dari sistem-sistem tersebut)," pungkas Suharso.

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓