Batam Siap Tampung Investor yang Tak Jadi Tanam Modal di Brebes

Oleh Ajang Nurdin pada 21 Jun 2020, 15:20 WIB
Diperbarui 21 Jun 2020, 23:12 WIB
Kepala BP Batam Muhammad Rudi. (Dok BP Batam)
Perbesar
Kepala BP Batam Muhammad Rudi. (Dok BP Batam)

Liputan6.com, Jakarta - BP Batam terus menggaet investor dari berbagai negara untuk menanamkan modalnya di Batam yang merupakan etalase Indonesia untuk Asia Tenggara (ASEAN). Langkah menggaet investor ini terus dilakukan di tengah wabah Corona dan adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.  

Kepala BP Batam dan juga Walikota Batam Muhammad Rudi mengatakan, Batam siap akan memberikan insentif bagi perusahaan yang akan melakukan investasi di Batam. Selain itu Batam juga siap memberikan rasa aman dan nyaman kepada para investor. 

Batam juga menyiapkan diri bagi para investor yang tidak jadi melakukan investasi di Brebes. Untuk diketahui, sebelumnya pemerintah pusat menyatakan bahwa Brebes sulit untuk menjadi kawasan industri karena terkendala masalah pembebasan lahan. 

"Sebenarnya Batam dari awalnya disiapkan untuk itu, " kata Rudi kepada Liputan6.com, seperti ditulis Minggu (21/6/2020).

Rudi juga berjanji akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk segera menyelesaikan masalah lahan tidur yang selama ini terjadi di Batam. Untuk diketahui, selama ini banyak makelar yang menguasai lahan di Batam. Mereka mendapat sewa harga murah tetapi kemudian menyewakan lagi dengan harga yang sangat tinggi. 

Karena harga sewa lahan terlalu tinggi maka banyak dari lahan di Batam tersebut tidak produktif alias menjadi lahan tidur.

Permasalahan ini sudah dikoordinasikan dan dapat dukungan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). "Kita akan dudukan kalaupun ada urusan hukum ini kebijakan pusat saya sudah laporan ke BKPM, saya laporkan dan BKPM siap membantum" kata dia. 

Muhammad Rudi meyakinkan bahwa Batam siap menerima relokasi perusahaan dari Amerika Serikat maupun Jepang dari sisi perizinan dan juga lahan.

Tak hanya itu, Batam juga memiliki lokasi yang strategis berada di jalur perdagangan internasional tersibuk kedua di dunia setelah Selat Dover di Inggris, insentif yang menjanjikan dari pemerintah, keberadaan Batam sebagai hub logistic yang menjanjikan, serta Infrastruktur Industri yang sangat siap menunjang investasi baru.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Rudi: Cegah Potensi Kekurangan Air Baku, BP Batam Siapkan Hujan Buatan

BP Batam
Perbesar
BP Batam.

Sebelumnya, sejak 2018, Pulau Batam mengelami berkepanjangan yang menyebabkan tampungan air baku di sejumlah waduk menurun. Penurunan tinggi muka air di waduk ini juga terkait dengan tingginya kebutuhan air bersih, baik untuk masyarakat maupun kawasan industri.

Curah hujan rata-rata yang turun di Kota Batam juga mengalami penurunan, yaitu dari 2.200-2.400 mm menjadi 1.800 mm. Hal ini sangat berdampak terhadap ketahanan waduk dalam menyediakan air baku sesuai dengan kapasitas desainnya.

Badan Pengusahan (BP) Batam bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah melakukan usaha untuk menambah volume air baku di Pulau Batam. Untuk pertama kalinya, wilayah Batam menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk mengisi cadangan air Waduk Duriangkang yang menopang kebutuhan air baku Kota Batam.

Pada dasarnya hujan buatan merupakan aplikasi dari suatu teknologi. Hal ini dilakukan untuk berbagai tujuan, seperti menambah curah hujan, mengurangi hujan es, dan mengurangi kabut.

Namun, di Indonesia, TMC biasanya digunakan untuk mengisi waduk, membasahi lahan gambut, memadamkan karhutla, atau mengurangi curah hujan penyebab banjir. Dalam hal ini, TMC digunakan di Batam untuk menambah volume air hujan agar dapat mengisi waduk-waduk yang ada di Pulau Batam.

Sebelumnya pada 8 Mei 2020 telah dilaksanakan penandatanganan MoU antara Kepala BP Batam dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan dengan Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT.

Kepala BP Batam yang juga Walikota Batam, Muhammad Rudi dan Kepala BPPT, Hammam Riza, melangsungkan pertemuan pada Kamis (18/6) guna melakukan koordinasi dan melihat perkembangan dari TMC yang sudah dilakukan selama sepekan terakhir.

"Saya bertemu dengan Kepala BPPT, kami telah melaksanakan MoU terkait Teknologi Modifikasi Cuasa (TMC) untuk mengatasi permasalahan air di Kota Batam. Kegiatan ini dimulai dari tanggal 11 Juni 2020 dan mungkin akan dilanjutkan sampai sebulan ke depan," ujar Kepala BP Batam, Muhammad Rudi. 

Muhammad Rudi berharap dengan adanya kerja sama ini dapat menyelesaikan permasalahan air baku di Batam. "Tentunya kami mengharapkan kerja sama ini dapat menyelesaikan permasalahan air baku di Kota Batam, sehingga supply air tidak terganggu dan suatu waktu proses air di Kota Batam bisa sempurna."

Kepala BPPT, Hammam Riza, menyampaikan terkait penerapan TMC bahwa hujan buatan menjadi upaya untuk mempercepat turunnya hujan. Tentunya hal ini membutuhkan teknologi atmosfer, kemudian kemampuan untuk menentukan, kapan saat yang tepat untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca.

"Hal ini sangat tergantung dari kondisi awan, arah angin, serta seluruh indikator-indikator yang terkait dengan cuaca. Dengan demikian kita melaksanakan upaya menyemai awan supaya bisa kondensasi atau pengembunan yang nantinya akan menghasilkan hujan," kata Hammam Riza.

Hammam Riza pun berharap, Batam terus memperkuat upaya untuk mengelola lingkungan dengan lebih baik, khususnya dalam ketersedian air, dalam melakukan mitigasi terhadap potensi risiko bencana alam.

"Tentunya BPPT sangat mendukung semua upaya ini karena pada akhirnya tugas BPPT melakukan pengkajian dan penerapan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat," tambahnya.

Dalam sepekan terakhir BP Batam dan BPPT melaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca. Tim BB TMC BPPT menggunakan pesawat Piper Cheyenne II dan untuk inisiasi di awan digunakan Flare Hygroskopic ICE Chrystal.

"Sejauh ini yang sudah kami lakukan sejak tanggal 11 Juni 2020, dengan menghitung intensitas curah hujan, kemudian kami crop dengan daerah tangkapan air (catchment area) waduk. Terhitung hasilnya 32 juta meter kubik. Jika dilihat dari TMA (titik mati atas) nya memang tidak terlalu terlihat, tetapi ada peningkatan sekitar 9 cm sejak pertama kali," kata Budi Harsoyo, Koordinator Tim TMC BPPT.

Dalam pertemuan turut hadir Anggota Bidang Pengusahaan BP Batam, Syahril Japarin, Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam Binsar Tambunan, Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam Dendi Gustinandar dan Tim BB TMC BPPT. 

Lanjutkan Membaca ↓