Apple Bakal Tutup 11 Toko di AS, Wall Sreet Tumbang

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 20 Jun 2020, 06:30 WIB
Diperbarui 20 Jun 2020, 06:30 WIB
Wallstreet 3 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
wall street

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham AS pada perdagangan Jumat ditutup melemah. Hal ini dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi yang kembali mencuat usai kasus virus corona terus bertambah di AS.

Dikutip dari laman CNBC, Sabtu (20/6/2020), Dow Jones Industrial Average ditutup turun 208,64 poin, atau 0,8 persen, pada 25.871,46. S&P 500 diperdagangkan 0,5 persen lebih rendah, atau 17,42 poin pada 3,097,92, setelah sempat turun hingga 1,0 persen selama perdagangan. Nasdaq Composite menyelesaikan sesi dengan 3,07 poin lebih tinggi di 9,946.12.

Apple mengatakan akan menutup total 11 toko di Florida, Arizona, Carolina Selatan, dan Carolina Utara. Semua toko telah dibuka kembali sejak Apple awalnya menutupnya pada bulan Maret di tengah wabah. Saham raksasa teknologi diperdagangkan 0,5% lebih rendah.

Saham operator jalur pelayaran turun setelah Asosiasi Internasional Cruise Lines mengumumkan penangguhan operasi pelayaran dari pelabuhan AS, mengutip situasi yang sedang berlangsung dengan pandemi. Norwegian Cruise Line dan Carnival masing-masing turun lebih dari 5 persen, sementara Royal Caribbean turun 6,8 persen.

 

2 dari 3 halaman

Kasus Covid-19 Naik

Wallstreet 2 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
wall street

Arizona dan Florida melaporkan rekor lonjakan dalam kasus Covid-19 yang dikonfirmasi pada hari Jumat ketika negara-negara bagian melanjutkan pembukaan kembali secara bertahap dan meningkatkan pengujian. Sementara itu, California pada hari Kamis melaporkan lebih dari 4.000 kasus baru dalam satu hari, jumlah harian tertinggi yang pernah ada.

"Kasus Covid-19 telah naik lebih tinggi di beberapa negara bagian di AS. Masalah ini jadi satu hal yang mengundang perhatian pasar," kata Vital Knowledge Adam Crisafulli.

Padahal, pada awal pekan ini, data penjualan ritel AS dan stimulus ekstra yang dikeluarkan The Fed mampu mengangkat pasar.

"Ke depan, peluang periode volatilitas cenderung tetap tinggi karena laba harus memenuhi harapan mengingat rebound yang kuat dalam penilaian dan ketidakpastian berlanjut," kata Larry Adam, kepala investasi di Raymond James, dalam sebuah catatan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓