Harga Tanah di Indonesia Mahal, Investor Lebih Suka Tanam Modal ke Vietnam

Oleh Liputan6.com pada 19 Jun 2020, 17:30 WIB
Diperbarui 19 Jun 2020, 17:30 WIB
Panel V Rakornas Indonesia Maju
Perbesar
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan saat diskusi panel V Rakornas Indonesia Maju antara Pemerintah Pusat dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Bogor, Rabu (13/11/2019). Panel V itu membahas penyederhanaan regulasi dan reformasi birokrasi. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus mendorong agar angka investasi asing ke Indonesia dalam bentuk penanaman modal langsung meningkat. Namun ternyata hal tersebut tidak mudah. Ada beberapa tantangan untuk mewujudkan hal tersebut.  

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, daya saing investasi Indonesia memang tertinggal dari Vietnam. Menurut dia, faktor utama yang menyebabkan investor asing enggan berinvestasi di dalam negeri yakni harga tanah di kawasan industri yang terlampau mahal.

"Di Vietnam itu, harga tanah industri cuma Rp 1 juta lebih per meter. Bahkan ada yang gratis tanahnya atau dengan sistem sewa," kata dia dalam video conference via Facebook, Jumat (19/6/2020).

Sedangkan, lanjut Bahlil, harga tanah pada kawasan industri dalam negeri rata-rata dibanderol Rp 3 juta per meter. Bahkan, di kawasan industri tertentu harga tanah bisa mencapai Rp 4 juta lebih per meter.

BKPM sendiri telah mengantongi data terkait harga tanah pada kawasan industri di Asia Tenggara. Tercatat Indonesia menduduki peringkat pertama dengan nilai Rp 3,17 juta per meter, Thailand Rp 3,03 juta per meter, Filipina Rp 1,79 juta per meter, Malaysia Rp 1,41 juta per meter, dan Vietnam Rp 1,27 juta per meter.

"Jadi, tanah kita di kawasan industri itu rata-rata Rp 3 juta lebih per meter masih kurang menarik bagi investor. Karena, ada yang Rp 2 juta, ada yang Rp 1,5 juta," terangnya.

 

2 dari 3 halaman

Kepentingan Pribadi

20151026-BKPM Luncurkan Layanan Investasi 3 Jam-Jakarta
Perbesar
Seorang konsumen saat berada di loket Migas kantor BKPM, Jakarta, Senin (26/10/2015). Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan komitmen pemerintah demi memberikan pelayanan prima dan cepat kepada investor. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kemudian, Bahlil mengimbau penyedia kawasan industri agar tidak mementingkan kepentingan pribadi demi memperoleh keuntungan yang besar. Sebaliknya penyedia kawasan industri harus bisa menghidupkan industri dalam negeri melalui penyediaan harga tanah yang lebih kompetitif.

"Tapi ada beberapa oknum, yang saya melihat kawasan industri ini jangan sampai dia berubah menjadi industri tanah. Artinya harganya mahal," tegas dia.

Oleh karenanya, BKPM akan lebih giat dalam mencari kawasan industri baru khususnya di wilayah Jawa Tengah. Selain itu, BKPM juga akan berkoordinasi dengan sejumlah BUMN di bidang konstruksi untuk membangun kawasan industri baru yang memiliki harga jual tanah lebih kompetitif bagi industri dalam negeri.

"Bila perlu kita sediakan gratis untuk industri. Atau nantinya kita kenakan sistem sewa yang lebih murah," pungkasnya.

 Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait