Industri Makanan dan Minuman Nasional Bakal Jadi Raja di ASEAN

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 19 Jun 2020, 13:15 WIB
Diperbarui 19 Jun 2020, 13:15 WIB
Industri Tahu Rumahan
Perbesar
Pekerja memotong tahu yang baru dicetak, di sebuah industri tahu rumahan di pinggiran Jakarta, Rabu (10/7/2019). Karena populernya, tahu menjadi bagian tak terpisahkan yang ditemui di tempat makan berbagai tingkat sosial di Indonesia, bersama-sama dengan tempe. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Liputan6.com, Jakarta - Industri logam dasar dan industri makanan masih mampu memberikan kontribusi signifikan bagi devisa. Terlihat ekspor kedua industri tersebut masih cukup besar meskipun di tengah pandemi. 

Secara kumulatif, sepanjang Januari-Mei 2020, sektor manufaktur tetap menjadi kontributor paling besar terhadap kinerja ekspor nasional.

"Catatan positif dari sektor industri logam menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi bisa berjalan baik, dengan mampu meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri serta dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2020).

Melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode lima bulan pertama tahun ini, nilai pengapalan industri pengolahan nonmigas melampaui USD 51 miliar atau menyumbang hingga 79,25 persen pada total nilai ekspor nasional yang mencapai USD 64,4 miliar. Sehingga Kemenperin bertekad untuk terus memacu industri yang berorientasi ekspor, guna mendorong roda perekonomian nasional.

Misalnya, industri logam dasar, mampu mencatatkan nilai ekspor yang gemilang pada Januari-Mei 2020 sebesar USD 9,2 miliar atau naik 41 persen dibanding perolehan di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD 6,5 miliar. Selain itu, industri makanan juga mampu menorehkan kinerja ekspornya secara positif di tengah tekanan imbas pandemi Covid-19.

Bahkan selama Januari-Mei 2020, nilai pengapalan industri makanan menembus angka USD 11,4 miliar atau naik 8 persen dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD 10,5 miliar.

"Sesuai aspirasi roadmap Making Indonesia 4.0, kami menargetkan industri makanan dan minuman akan menjadi sektor yang mampu merajai di wilayah Asia Tenggara," ungkap Agus.

 


Pengolahan Nonmigas

Yayasan DBA Kembangkan Sektor Unggulan Logam
Perbesar
Pekerja membuat logam di Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Citeureup, Bogor, Selasa (6/8/2019). Lembaga yang merupakan cabang YDBA di Tarikolot merupakan sektor unggulan logam ke 16 yang sebelumnya telah mengembangkan 15 sektor unggulan di berbagai industri. (Liputan6.com/HO/Eko)

Sektor manufaktur lainnya yang memberikan kontribusi signifikan bagi perolehan nilai eskpor industri pengolahan nonmigas pada lima bulan pertama tahun ini, antara lain adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar USD 4,9 miliar, kemudian diikuti oleh industri pakaian jadi USD 2,8 miliar.

Kelompok manufaktur berikutnya yang punya potensi pasar ekspor besar, yakni industri komputer, barang elektronik dan optik. Pada Januari-Mei 2020, nilai pengapalan dari sektor tersebut mampu tembus USD 2,4 miliar atau naik sekitar 14 persen dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD 2,1 miliar. Bagi industri elektronik, Menperin menyebut, pihaknya akan berfokus pada peningkatan kemampuan pelaku usaha di pasar domestik.

 


Industri Kulit

Fashion Bahan Kulit Indonesia Diminati Mancanegara
Perbesar
Pada 2013 kalangan industri sepatu atau alas kaki di Indonesia mampu mengekspor sepatu dengan nilai US$ 3,9 miliar, Jakarta (30/5/2014) (Liputan6.com/Faizal Fanani).

Selain itu, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, yang mencatatkan nilai ekspornya sebesar USD2,3 miliar pada Januari-Mei 2020 atau naik sekitar 4 persen dibanding capaian di periode yang sama tahun 2019 sekitar USD2,2 miliar. "Kami optimistis Indonesia bisa menjadi bagian dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030," tegas Menteri AGK.

Agus pun meyakini, kinerja industri manufaktur akan bergerak cepat usai penanganan Covid-19 selesai. Sebab, izin operasional telah diberikan bagi kelompok industri strategis, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Tidak boleh (jarak aspek produktivitas) terlalu jauh, harus terus mepet dan tidak boleh ketinggalan, sehingga nanti new normal paling tidak ketika vaksin sudah ditemukan industri manufaktur tidak butuh waktu lama untuk bisa rebound kembali ke titik seperti sebelum Covid-19 itu hadir," paparnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya